Jumat, 23 Agustus 2019

Rifky Adha: Sosok Teladan yang Berjuang dalam Kesederhanaan

Mengenal Rifky Adha adalah mengenal sosok pemuda sederhana dengan semangat luar biasa. Penerima beasiswa Tanoto Foundation ini patut dijadikan TELADAN karena cerita hidupnya yang begitu menginspirasi. Mahasiswa jurusan Hubungan Internasional di Universitas Riau ini mungkin masih berusia 22 tahun, namun filosofi dan nilai yang ia pegang dalam menjalani hidup sungguhlah matang. Di tahun ketiganya berkuliah dan menjadi penerima beasiswa Tanoto Foundation dari program TELADAN, Rifky memutuskan untuk tinggal di musala kampus.

“Tidak ada yang salah dengan hal itu. Tidak ada yang harus membuat saya malu atau minder,”

Rifky

Baginya, menuntut ilmu adalah berjuang untuk hidup dan ia tidak akan segan untuk berusaha sekuat tenaga. “Saya berasal dari keluarga dengan pendapatan menengah ke bawah. Ayah saya adalah seorang pekerja pabrik, begitu pun Ibu saya. Kedua orang tua saya dan adik perempuan saya tinggal di Medan,” ungkapnya tenang, tidak tergambar sedikit pun kesedihan dalam matanya.

Latar belakang ekonomi keluarganya pernah membuat pemuda sederhana ini harus mengurungkan niatnya untuk berkuliah selama setahun. “Begitu lulus dari Sekolah Menengah Atas [SMA], sewaktu masih di Medan, saya tidak bisa langsung melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah karena hambatan biaya,” kata Rifky.

Meski semangat belajarnya begitu memburu, Rifky memendam kekecewaannya dan sedapat mungkin memahami kondisi orang tuanya. Ia bahkan memanfaatkan waktunya untuk bekerja, ikut mengebulkan dapur keluarga mereka. “Tanpa pengalaman, sangat sulit mencari pekerjaan. Saya sempat bekerja sebagai tukang sapu di rumah makan dan tempat karaoke. Saya tidak pernah malu, hanya saja gajinya begitu pas-pasan,” katanya.

Di tahun selanjutnya, setelah mengumpulkan biaya, barulah Rifky dapat mengenyam pendidikan dari bangku kuliah setelah ia resmi terdaftar sebagai mahasiswa jurusan Hubungan Internasional di Universitas Riau. “Setahun berkuliah dan merantau jauh dari rumah, hambatan ekonomi itu datang lagi. Di akhir semester dua, saya terancam harus berhenti berkuliah,” terang Rifky.

Ketika inilah ia berkenalan dengan beasiswa Tanoto Foundation melalui program TELADAN.

“Teman-teman seangkatan saya banyak sekali yang mendaftar. Melihat ketatnya persaingan, awalnya saya sedikit ragu. Namun saya beranikan diri untuk berjuang karena saya tidak ingin mengorbankan pendidikan yang telah susah payah saya mulai,” ungkapnya seraya menambahkan bahwa ia tidak ingin berkuliah sambil bekerja karena ia tahu hal tersebut akan berdampak terhadap prestasi akademiknya.

Hingga akhirnya Rifky membuktikan sendiri hasil dari ketekunan dan doa yang tak terputus. Memasuki semester tiga, Rifky sudah menyandang predikat sebagai penerima beasiswa Tanoto Foundation.

“Menerima beasiswa Tanoto Foundation ini seperti merasa beban yang sangat berat telah terangkat dari pundak saya dan orang tua saya. Di samping tunjangan biaya kuliah, saya mendapat bantuan untuk membeli buku-buku perkuliahan dan alat penunjang perkuliahan,”

Rifky

Namun, memasuki semester lima dan mulai mempersiapkan diri untuk penelitian tingkat akhir, Rifky memutuskan untuk berhenti menyewa kamar di rumah kos dekat kampusnya.

“Saya sangat ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang Magister, saya juga ingin menabung agar adik saya yang sekarang duduk di bangku SMA tidak mengalami kesulitan yang pernah saya alami ketika akan melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi nanti,” sambil tersenyum Rifky bercerita mengenai rencananya.

“Kebetulan Universitas Riau memperbolehkan mahasiswa untuk menempati beberapa kamar tidur yang terletak di samping musala kampus,” katanya.

“Saya berpikir, kenapa tidak? Saya dapat datang lebih cepat untuk setiap perkuliahan, saya dapat lebih rajin beribadah, serta dapat menabungkan biaya tempat tinggal untuk mewujudkan impian saya,” ungkap Rifky.

Menempati musala kampus, Rifky pun tidak lantas bersikap acuh terhadap kondisi tempat tinggalnya. Setiap dini hari ia akan membersihkan musala sebelum berangkat kuliah, begitu pun setelah matahari terbenam.

“Tidak ada yang membuat saya malu karena saya tidak melakukan hal yang buruk. Saya sedang berjuang untuk menjadi orang sukses yang dapat membahagiakan kedua orang tua saya,” pungkas sosok teladan ini penuh kepastian.

 

Tidak hanya Rifky, kamu juga bisa menjadi sosok pemimpin masa depan! Rebut peluang dan gapai mimpi besarmu bersama Tanoto Foundation melalui program TELADAN!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comments

Yerobeam Saribu - Agustus 30, 2019

Pengalaman semacam ini patut saya teladani dan belajar untuk bersabar dan sambil berdoa.
Pengalaman adalah guru terbesar.