Read Also

Bangga rasanya bisa menjadi pemenang pertama Sayembara Tulisan Inspiratif Mengajar yang diadakan oleh sebuah komik sains anak nasional Kuark pada Juni 2018. Bukan hanya karena tulisan saya terpilih sebagai karya terbaik, tapi juga karena saya bisa berbagi inspirasi dengan guru di seluruh Indonesia.

Untuk lomba itu, saya menuliskan tentang metode mengajar di sekolah yang saya dapatkan dari pelatihan Tanoto Foundation, organisasi filantropi yang fokus pada kegiatan pendidikan. Salah satu metode yang saya bagikan adalah mengajar bisa di mana saja, termasuk di luar ruang kelas.
Saya mengajar di SD Swasta (SDS) Global Andalan Estate Cerenti, Desa Gunung Melintang, Kecamatan Kuantan Hilir, Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau. Saya merasa beruntung, karena sekolah kami menerapkan pola belajar di luar kelas dengan porsi cukup besar, yaitu 70%.

Pilihan ini membuat saya bisa banyak melakukan eksperimen. Salah satunya melakukan observasi ke dalam hutan konservasi yang lokasinya hanya 10 menit jalan kaki dari sekolah. Pada satu hari, saya mengajak murid kelas VI SDS Global Andalan Estate Cerenti mencari tumbuhan berciri khusus di dalam hutan.

Saya membagi mereka ke dalam empat kelompok. Masing-masing kelompok bertugas melakukan pengamatan terhadap tumbuhan berciri khusus sesuai pilihannya, yaitu kantong semar, tali putri, rotan, dan anggrek hutan.

Setelah menemukan tanaman tersebut, mereka ditugaskan mengamati dan mencatat ciri-ciri khususnya. Pada tahap pencatatan ini, murid-murid melakukan pengamatan tanaman, seperti para ahli tanaman bekerja. Mereka mengidentifikasi tinggi tanaman, jenis daun, jenis akar, dan nama tumbuhan di buku masing-masing.

Saya melihat mereka sangat menikmati kegiatan ini. Dan, saat siswa sudah bisa menikmati proses belajar mengajar, itu menjadi awal yang baik untuk memudahkan mereka memahami pelajaran. Setelah melakukan identifikasi, saya mengajarkan mereka cara mengambil tanaman yang benar untuk dibudidayakan.

Saya meminta mereka memindahkan sebuah tanaman ke dalam botol bekas air kemasan berukuran 1,5 liter yang sudah dimodifikasi dan membawanya ke sekolah. “Kami menemukan kantong semar. Tinggi tanaman sekitar 15 sentimeter.

Ciri-ciri tanaman ini memiliki kantong yang bisa menangkap serangga di dalamnya. Kami senang dengan kegiatan belajar di luar kelas ini,” kata Aditya mewakili kelompok 1 saat mempresentasikan hasil pengamatan mereka.

Saya ikut bahagia mendengar penjelasan mereka. Saya membayangkan anak-anak ini akan menjadi ahli kultur jaringan atau peneliti biologi yang akan memajukan ilmu pengetahuan di Indonesia. Tidak mustahil salah satu dari mereka akan menjadi penerima Nobel di masa depan.

Ditulis oleh Esra Palentina Samosir, Guru SD Global Andalan Estate Cerenti, Riau.


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *