Read Also

Sikap kepedulian sosial yang tinggi dimiliki Iwan Budi Santoso, Tanoto Scholars dari Universitas Gadjah Mada. Melihat anak-anak di pedesaan yang kurang mendapat pendidikan berkualitas, ia mengabdikan diri selama setahun untuk menjadi guru di SD Inpres Batulai, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur.

Rasa keprihatinan Iwan terhadap pendidikan anak muncul saat dirinya masih kuliah di Fakultas Psikologi UGM. Penerima beasiswa Tanoto Foundation tahun 2010 itu mengikuti ekspedisi khatulistiwa sebagai peneliti sosial dan budaya bersama Tentara Nasional Indonesia di Kutai Barat, sebuah wilayah perbatasan Indonesia dengan Malaysia.

Di pedesaan terpencil tersebut, Iwan menyaksikan sendiri bagaimana anak-anak begitu bersemangat untuk belajar, tetapi ternyata kekurangan tenaga pengajar di sekolah. Anak-anak hanya bermain-main sekadarnya tanpa bimbingan dan pembelajaran dari guru. Dari situ, Iwan mencoba untuk turun tangan dan mulai mengajar.

“Ternyata menyenangkan juga ya, menjadi guru,” kenang Iwan. “Ada rasa kepuasan saat melihat anak-anak memahami dan bisa mempraktikkan apa yang saya ajarkan.”

Keinginan Iwan untuk menyumbang tenaga bagi dunia pendidikan Indonesia terus  berlanjut. Setelah lulus kuliah pada 2013, ia mendaftar pada Gerakan Indonesia Mengajar dan terpilih menjadi salah satu Pengajar Muda dalam program tersebut.

Dalam program tersebut, Iwan mendapatkan pelatihan intensif selama dua bulan mengenai kependidikan dan pengajaran. Dari sini Iwan mendapat tambahan bekal dalam memberikan pembelajaran yang berkualitas,  sebelum terjun ke wilayah penempatan di Pulau Rote.

“Saya mendapati bahwa anak-anak di SD Inpres Batulai ini sangat antusias dalam belajar. Sayangnya, kami masih kekurangan guru yang kompeten dalam mengajar mereka,” kata pemuda kelahiran Temanggung, Jawa Tengah, yang hobi bersepeda ini.

Tugas pertamanya adalah mengajak guru-guru lokal memanfaatkan media pembelajaran kreatif agar anak lebih menikmati dan mudah memahami materi pelajaran. Iwan juga memperkenalkan pembelajaran luar ruangan untuk memancing sikap kritis anak-anak.

“Terkadang saya membawa anak-anak ke pantai untuk belajar dan mengenal jenis-jenis angin. Di lain waktu, saya mengajak mereka mengenal fenomena alam gerhana bulan dengan meilihatnya langsung,” tambah Iwan.

Tak hanya itu, Iwan juga berinisiatif memperkenalkan media sosial kepada guru agar mereka bisa saling bertukar informasi dan belajar dari guru-guru di luar daerah. Iwan berharap, apa yang ia lakukan bisa meningkatkan kompetensi guru dalam memberikan pembelajaran di kelas.


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *