Jumat, 7 Mei 2021

Selalu SIGAP Episode #2: Kesiapan Menjadi Orang Tua

Setelah menikah, menjadi orang tua lazimnya adalah salah satu yang paling dinanti sebuah pasangan. Beberapa mungkin sudah mengidam-idamkan untuk memiliki keturunan sendiri sejak lama, sementara ada pula yang ‘tertular’ dari seringnya melihat foto-foto bayi menggemaskan di Instagram.

Namun, pada kenyataannya, membesarkan anak tentu membutuhkan tanggung jawab yang lebih besar dari sekadar memajang foto di media sosial.

Kehadiran seorang anak akan berdampak besar dan mengubah seluruh kehidupan orang tua, termasuk hubungan dengan pasangan. Setiap hari, mereka akan dituntut untuk beradaptasi dan belajar tentang hal baru. 

Dalam episode kedua Selalu SIGAP, pembawa acara Anastasia Praditha berbincang dengan Anna Surti Ariani, dipanggil Nina, Ketua Ikatan Psikolog Klinis Wilayah Jakarta, dan Widodo Suhartoyo, Senior Advisor Program Pengembangan dan Pendidikan Anak Usia Dini di Tanoto Foundation, tentang apa saja yang perlu dipersiapkan sebelum menjadi orang tua.

Episode ini membahas:

a. Kesiapan calon orang tua
b. Pola pengasuhan yang tepat
c. Yang patut diketahui          

Mempersiapkan Segalanya

“Banyak pasangan muda yang mengira kalau misalnya menikah lalu punya anak itu lucu, karena banyak teman yang posting di Instagram,” kata Nina. “Padahal di balik foto lucu itu sebetulnya ada keberantakan yang luar biasa. Kenyataan yang justru jarang muncul di Instagram.”

Ketika yang kita lihat hanya satu bagian dari menjadi orang tua, kita bisa jadi gampang terbuai dan lupa akan hal-hal penting yang harus dipersiapkan.

Menurut Nina, segala persiapan ini termasuk mempelajari nutrisi dan pola pengasuhan yang baik untuk anak, serta menyadari keadaan diri kita untuk dapat menjawab pertanyaan: “apakah sekarang saat yang tepat untuk mempunyai anak?”

“Sayangnya, di Indonesia belum ada pendidikan formal untuk menjadi orang tua,” kata Widodo.

“Pengasuhan adalah proses dan cara bagaimana orang tua berinteraksi dengan anaknya agar anak tersebut bisa berkembang secara optimal. Tetapi kadang tidak dipersiapkan betul tujuan dari interaksi dan mengasuh ini untuk apa,” lanjutnya.

Beberapa orang tua juga cenderung menerapkan hal-hal yang mereka pelajari ketika masih kanak-kanak, sementara keadaan ketika meraka telah menjadi orang tua tentu saja jauh berbeda. Maka, ingatlah bahwa orang tua harus selalu siap untuk mempelajari hal-hal baru demi kebaikan anak.  

Pola Pengasuhan

Lingkungan dapat memengaruhi seorang anak dan membantunya mengembangkan karakter atau kepribadian tertentu.

Menurut Nina, individu-individu yang tangguh dan selalu sigap umumnya datang dari pasangan orang tua yang mampu memberikan batasan-batasan yang jelas.

“Orang tua dapat bersikap hangat tapi juga mampu mengatur atau memotivasi anak untuk terus berkembang,” ujarnya.

Penting bagi orang tua untuk menentukan pola pengasuhan seperti apa yang cocok bagi keluarga mereka. Salah satu kategorisasi populer tentang pola pengasuhan diciptakan oleh Diane Baumrind di tahun 1960-an.

Menurut Baumrind, terdapat beberapa jenis pola pengasuhan orang tua, antara lain: otoritarian, permisif dan otoritatif.

Orang tua otoritarian cenderung memberlakukan aturan-aturan kaku dan mewajibkan sikap yang patuh. Sebaliknya, orang tua permisif bersifat mencintai namun memberikan sedikit panduan dan aturan.

Orang tua yang permisif juga cenderung tak terlibat dalam berkomunikasi atau berinteraksi secara minim dan membiarkan anak berlaku semaunya.

Sementara itu, orang tua otoritatif dicirikan dengan sikap hangat, suportif, dan tetap menerapkan aturan-aturan tegas bagi anak mereka.  

Pola terakhir dianggap yang paling baik dan dapat menciptakan anak-anak yang unggul, dengan rasa percaya diri tinggi dan hasil akademik yang baik.

Tetap Belajar dan Beradaptasi

Menjadi orang tua berarti kita harus siap belajar dan beradaptasi. Dalam hidup, perasaan dan opini kita dan anggota keluarga lain akan selalu berkembang maupun berubah, dan ini bisa memicu konflik.

Pembicara Nina dan Widodo percaya bahwa komunikasi adalah kuncinya. Setiap masalah idealnya bisa dipecahkan dengan berbicara secara terbuka.

Widodo mengatakan bahwa sebuah keluarga dapat berbicara secara terbuka dan hangat saat mereka makan bersama. Sayangnya, kegiatan ini belakangan agak hilang di masyarakat.

“Makan bersama adalah saat paling tepat bagi keluarga untuk berkomunikasi, untuk saling menceritakan apa yang dialami, keseharian, atau masalahnya apa,” ujarnya.

Nina juga berujar bahwa alih-alih ingin menjadi “ayah super” atau “ibu super”, lebih baik sebuah keluarga mempunyai sebuah tim super. Tim ini bisa terdiri dari orang-orang yang berada di sekeliling keluarga, seperti kakek nenek, tetangga, keluarga dekat maupun sekolah. Untuk itu, mereka diharapkan memiliki kesepakatan bersama tentang bagaimana cara terbaik mengasuh si anak.

Nina juga menyarankan agar sebuah keluarga memiliki teman sesama orang tua yang punya anak seumuran. Dari sana, diharapkan para orang tua ini dapat berbagi gagasan serta saling memberi dukungan.

Sebagai catatan terakhir, Widodo berkata bahwa di luar kodrat perempuan seperti menyusui, orang tua harus bisa melakukan semua peranan dalam keluarga, tanpa adanya perbedaan gender.

“Dalam pengasuhan, tidak ada peranan ayah atau peranan ibu. Yang ada ialah peranan orang tua,” katanya.  

Cari tahu lebih lanjut http://bit.ly/KesiapanMenjadiOrangTua

Dengarkan di Spotify!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comments