Rabu, 24 November 2021

Screen Time Menjadi Kekhawatiran Orang Tua di Masa Kini

Dengan sekolah daring dan orang tua yang bekerja dari rumah, menjaga anak agar terhindari dari gadget bisa menjadi kesulitan.

Dalam episode terkini Bincang Inspiratif: The Screen Time Conundrum, pembawa acara kami Astrid Tiar berbincang dengan Dokter Spesialis Anak di Rumah Sakit Wanita & Anak Brawijaya Antasari, dr. Attila Dewanti dan membahas seputar kekhawatiran orang tua pada screen time yang berlebih pada anak.

Episode ini membahas:
– Dampak screen time pada anak
– Usia ideal anak memiliki gadget
– Kesadaran orang tua memberikan gadget pada anak
– Mengelola sistem perubahan sekolah dari online ke PTMT

Dampak Screen Time Berlebihan Pada Anak

Terdapat empat ranah utama dalam tumbuh kembang anak: Motorik Kasar, Motorik Halus, Kemampuan Berbicara, dan Kecerdasannya. Namun screen time sangat kurang membantu dalam hal tersebut. Sebagai contoh: Anak memerlukan komunikasi yang bersifat dua arah, namun screen time adalah jenis komunikasi satu arah. Mereka membutukan stimulasi sensorik seperti pengenalan terhadap jenis-jenis tekstur yang berbeda, yang tidak didapatkan dari screen time.

Screen time secara pasif juga dapat berdampak pada regulasi emosional anak karena tidak mendapat interaksi sosial. Anak dengan usia di bawah 5 tahun akan lebih mudah tantrum jika screen time-nya dibatasi.

Kapan Anak Bisa Mendapatkan Screen Time?

Dr. Attila menyampaikan bahwa anak-anak ibarat sponge yang dapat menyerap segala sesuatu yang mereka lihat dan dengar. Di sini lah tugas orang tua dibutuhkan dengan memberikan stimulasi yang tepat, screen time yang wajar, dan tontonan yang berkualitas.

Menurut IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), anak-anak di bawah usia dua tahun sangat tidak dianjurkan untuk mempunyai screen time atau gadget. Screen time yang bersifat pasif pun dapat diberikan namun sangat minim, kecuali untuk keperluan bersama keluarga seperti video call.

Anak-anak di atas dua tahun anjuran yang dibolehkan adalah maksimal 1 jam screen time per hari, atau semakin sedikit semakin lebih baik.

Dengan kegiatan orang tua yang bekerja dari rumah, memberikan gawai untuk anak sesekali tentunya dapat dimengerti.

Namun secara umum sebagai orang tua harus memiliki aturan yang konsisten: seperti contoh, menonton video di YouTube atau bermain game satu jam saat akhir pekan.

Orang tua pun harus banyak akal untuk membuat anak tidak tertarik dengan screen time. Seperti contoh, mengajak mereka untuk membantu di dapur, melibatkan mereka untuk mencuci mobil bersama, atau aktivitas fisik lainnya. Ada dua tipe anak jika screen time mereka habis, yang pertama anak akan nurut dan yang kedua anak akan tantrum.

Pada anak yang tantrum jika screen time-nya telah habis, dr. Attila menjelaskan untuk orang tua pertama-tama harus mengenali emosi anak. Jika anak marah, menangis hingga memukul, peluk dan pegang perlahan tangan anak. Coba untuk memahami luapan emosi yang sedang mereka rasakan sambal pelan-pelan menjelaskan bahwa mereka belum seharusnya menghabiskan waktu berlebihan pada gawai atau screen time.

Bersiap Kembali ke Sekolah

Orang tua kembali harus disiapkan dengan anak-anak yang mulai bersekolah. Orang tua dapat berperan dengan membantu menyiapkan mereka untuk berinteraksi secara sosial seperti berbagi dengan teman, mengantre, atau mencuci tangan. Kegiatan sosial seperti ini yang tidak didapatkan dari menghabiskan waktu dengan screen time.

Kegiatan tatap muka memang sangat penting, namun orang tua juga tetap wajib menaati protokol kesehatan yang berlaku.

Terakhir dr. Attila menyampaikan bahwa screen time tidak selalu merupakan hal yang buruk. Hanya saja diperlukan kewajaran, serta diseimbangkan dengan aktivitas fisik, dan pola tidur atau istirahat yang baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comments