Jumat, 15 Oktober 2021

Bincang Inspiratif: Asih, Asah, dan Asuh untuk Perkembangan Optimal Anak

Presiden ke-tiga Indonesia, BJ Habibie memiliki tinggi 162 cm. Untuk banyak orang tua Indonesia, Habibie adalah bukti bahwa tinggi badan seseorang tidak mempengaruhi kemampuan mereka. Hanya saja, anggapan ini bisa menjadi berbahaya jika orang tua menjadi terlalu santai dalam memastikan anak berkembang secara optimal.

Tinggi badan adalah salah satu cara paling mudah untuk mendeteksi stunting, yang berbahaya bagi perkembangan fisik dan otak anak. Seorang anak dikatakan mengalami stunting jika tinggi badan mereka terletak dua deviasi standar di bawah titik tengah Standar Pertumbuhan Anak dari Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO).

“Kekurangan nutrisi tidak hanya mempengaruhi tinggi badan anak, tapi juga kecerdasan mereka,” kata dr. Margareta Komalasari, SpA, seorang dokter spesialis anak. Menurut dr. Margareta, tidak banyak orang tua yang memahami bahwa malnutrisi tidak hanya menghambat pertumbuhan fisik anak tapi juga perkembangan otak mereka.

Dalam episode terbaru Bincang Inspiratif dari Tanoto Foundation, dr. Margareta berbicara pada host Andrea Lee tentang pentingnya nutrisi dan pola pengasuhan terhadap perkembangan otak anak. Episode ini membahas:

  • – Pentingnya 1.000 hari pertama kehidupan
  • – MPASI untuk bayi
  • – Peran pola pengasuhan dalam perkembangan anak

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Tanoto Foundation (@tanotoeducation)

1,000 hari pertama kehidupan

Memastikan perkembangan anak optimal tidak hanya dimulai saat mereka lahir, tapi sejak hari-hari pertama kehamilan. 1,000 hari pertama kehidupan, yang berlangsung dari awal kehamilan hingga ulang tahun kedua anak, memiliki dampak jangka Panjang bagi perkembangan dan pertumbuhan anak. Pengasuhan anak usia dini menjadi sangat penting mengingat bahwa otak anak berkembang sampai 80% ukuran dewasa di usia tiga tahun dan 90% di usia lima tahun.

“Perkembangan anak dipengaruhi oleh dua faktor: genetic dan lingkungan, termasuk nutrisi,” kata dr. Margareta. “Oleh karena itu, sangat penting bagi ibu hamil untuk memenuhi makronutrien dan mikronutrien yang diperlukan untuk perkembangan janin.”

Makronutrien, terdiri dari karbohidrat, protein, dan lemak, dibutuhkan dalam dosis banyak. Protein khususnya sangat penting untuk perkembangan otak.

Mikronutrien, di sisi lain, hanya diperlukan sedikit saja. Akan tetapi, kekurangan mikronutrien, seperti vitamin dan mineral, bisa berdampak buruk dalam jangka pendek dan panjang.

Menurut dr. Margareta, ibu hamil membutuhkan ekstra 300 kalori per harinya. dr. Margareta menyarankan ibu hamil untuk tidak mengikuti tren di kalangan ibu hamil untuk tidak makan terlalu banyak supaya berat badan tidak naik terlalu banyak.

“Sebenarnya kenaikan berat badan selama hamil itu wajar. Akan tetapi, terlalu banyak juga tidak baik untuk janin,” kata dr. Margareta. “Umumnya, kenaikan badan selama kehamilan tidak boleh melebihi 16 kg untuk menghindari diabetes gestasional atau tekanan darah tinggi.”

 

Mengenalkan MPASI

Bayi yang baru lahir harus menerima ASI eksklusif hingga usia enam bulan. Lalu, orang tua bisa mengenalkan MPASI dalam pola makan anak. WHO merekomendasikan orang tua untuk mengenalkan makanan yang sudah dihaluskan sebelum meningkatkan kuantitas dan konsistensi makanan sebelum ulang tahun pertama anak.

“Ingat bahwa MPASI seharusnya tetap menjadi pelengkap, bukan pengganti ASI. Orang tua harus memperhatikan nutrisi dan tekstur makanannya untuk menghindari risiko tersedak,” kata dr. Margareta. Pada awal MPASI, bayi sebaiknya tidak diberi makan terlalu banyak sayuran karena bisa menghambat penyerapan gizi. Buah-buahan juga harus dibatasi karena kandungan gulanya, yang bisa membuat bayi menolak makan yang tidak manis.

Meski banyak orang tua yang memasak MPASI sendiri, membeli makanan jadi yang sudah difortifikasi juga tidak masalah. Menurut dr. Margareta, yang penting anak mendapatkan cukup kalori dan nutrisi.

 

Lebih dari sekadar makanan: Pentingnya pola pengasuhan

“Anak itu tidak hanya duduk lalu makan,” kata dr. Margareta. “Mereka butuh asih, asah, dan asuh.”

Asih berarti pemenuhan nutrisi melalui ASI dan MPASI. Asah berarti pemberian stimulasi untuk perkembangan anak. Asuh berarti lingkungan yang penuh cinta dan dukungan.

Asah dan asuh termasuk dalam pola pengasuhan, yang krusial untuk memastikan perkembangan anak usia dini menurut laporan Menembus Batas Potensi Belajar Anak oleh Filantropi Indonesia dan Tanoto Foundation.

Menurut dr. Margareta, nutrisi saja tidak cukup. Untuk mendorong tumbuh kembang anak secara optimal, orang tua perlu memberikan stimulasi terutama di usia emas anak.

Meskipun pandemi telah membatasi kegiatan yang orang tua dan anak bisa lakukan, dr. Margareta mengajak orang tua untuk menjadi kreatif. Orang tua bisa mengajak anak untuk bermain sepakbola atau belajar menaiki sepeda untuk melatih kemampuan motorik kasar dan menemani anak untuk menggambar atau bermain playdough untuk meningkatkan kemampuan motorik halus.

“Ketika anak sedang berada dalam fase meniru, fasilitasi kreativitas mereka dan ajak mereka bermain peran di rumah,” kata dr. Margareta.

Lebih penting lagi, orang tua perlu membantu anak membangun kepercayaan diri dengan mendukung mereka dan bukannya malah meremehkan. “Komentar atau kritik yang kita ucapkan sambil lalu bisa melukai anak. Bicaralah dengan penuh kasih saying dan percaya pada mereka,” kata dr. Margareta.

“Ingat, semua jenis dukungan dari asih, asah, dan asuh harus terintegrasi untuk memastikan tumbuh kembang anak yang optimal,” katanya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comments