Rabu, 15 Mei 2019

Ari Kunto: Terinspirasi Prinsip Paying It Forward dari Pendiri Tanoto Foundation

Bagi Duantra Bergas Ari Kunto, hidup itu penuh berkah dan kebaikan. Ia merasa telah menerima banyak kebaikan dari orang lain, maka kini saatnya ia menularkan kebaikan tersebut kepada masyarakat luas.

Ari adalah Tanoto Scholar atau penerima program kepemimpinan Tanoto Foundation tahun 2013, saat berkuliah di Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor. Aktif dalam Tanoto Scholars Association IPB membuat Ari terbiasa dengan kegiatan sosial.

View this post on Instagram

[MIMPI ANAK KAHURIPAN] Desa Kahuripan. Sebuah desa kecil di kabupaten Bogor yang merupakan desa binaan TSA IPB. Tempat tinggal bagi mereka, anak-anak kecil yang masih duduk di bangku sekolah. Meskipun demikian, terlihat bahwa pendidikan di daerah ini masih tergolong minim. "Kami sangat senang masih ada mahasiswa yang peduli dengan desa kami", Kata salah satu ketua RT sambil terharu. Ya memang lokasi desa ini dapat dikatakan lumayan jauh dari tempat tinggal mahasiswa di sekitaran IPB. Sabtu, 22 Februari 2019, kami (TSA IPB) seperti biasa mengunjungi desa kahuripan untuk berbagi keceriaan kepada anak-anak di sana. Hari itu, kami disambut puluhan anak kecil yang berbondong-bondong berkumpul untuk menantikan hal yang akan kami bagikan pada mereka. Siang itu, kami meminta mereka untuk menulis serta menggambarkan cita-cita mereka kelak nanti. Begitu semangatnya mereka duduk sambil menggambarkan impian mereka pada selembar kertas yang kami berikan pada mereka. Dan mimpi sederhana mereka berhasil membuat kami para mahasiswa terharu melihatnya. Jadikanlah kebaikan sebagai panggilan jiwamu, agar TUHAN selalu memanggilmu saat ada kebaikan yang harus dilakukan. – Mario Teguh #tsaipb #tanotoeducation #tanotoscholars #tanotofoundation #MENJADITELADAN @tanotoeducation

A post shared by TanotoScholars Association IPB (@tsaipb) on

“Waktu itu TSA IPB mempunyai kegiatan Bina Desa, dimana setiap akhir pekan kami pergi ke Desa Sukadamai, Bogor, untuk membimbing belajar anak-anak di kampung tersebut. Kami juga berinteraksi dengan orang tua agar memperhatikan perkembangan anak-anaknya,” kenang Ari.

Tanoto Scholars didukung oleh Tanoto Foundation untuk menjalankan proyek sosial sebagai wujud menularkan kebaikan atau paying it forward manfaat yang mereka terima kepada masyarakat. Hal ini juga ditekankan oleh pendiri Tanoto Foundation, Sukanto Tanoto dan Tinah Bingei Tanoto, bahwa pemimpin yang baik harus peduli terhadap masyarakat.

View this post on Instagram

LIWAR BUNGASNYA Liwar itu berarti sangat. Bungas itu artinya cantik atau tampan. Jadi liwar bungasnya itu artinya sangat cantik atau tampan. Bersama siswa siswi SDN Haratai 2 yang sangat cantik dan tampan saya mendapat kebahagiaan tersendiri. Bahagia itu sederhana lho, seperti melihat mereka tersenyum manis. Berbagi itu tidak harus dengan materi, tapi bisa juga dengan tenaga dan waktu. Bekantan terakhir ini memberikan saya senyum nanti sepulangnya saya dari penempatan. Tidak lama lagi memang. Tp nanti saya tidak ingin bersedih mengingat semua kenangan ini. Senyum ini akan memberi senyum lagi kepada saya nanti sebagai pengobat lelah. #kabARI84 #BEKANTAN #PENGAJARMUDA #INDONESIAMENGAJAR #LOKSADO

A post shared by Duantra Ari (@ariaarrii) on

Setelah lulus pada 2017, keinginan Ari untuk berkontribusi kepada masyarakat terus tumbuh. Ia rela meninggalkan pekerjaanya di sebuah start up berbasis teknologi, meluangkan satu tahun dalam hidupnya untuk mengabdi kepada masyarakat pedalaman melalui program Indonesia Mengajar.

“Untuk menjadi peserta dalam program ini, kami melewati seleksi ketat dan harus bersaing dengan lebih dari 6.000 peminat. Pada penerimaan tahun 2018, dari jumlah peminat tersebut hanya diambil 33 orang untuk menjadi Pengajar Muda. Alhamdulillah saya bisa lolos,”

Ari ditempatkan di Desa Haratai, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan . Lokasi tempatnya mengajar merupakan pedesaan dengan perjalanan 2 jam dari kota terdekat melalui jalan berliku penuh tanjakan.

“Tanjakan di sini bisa mencapai kemiringan 45 derajat,” kata Ari menggambarkan suasana desa tempatnya mengajar. Terlebih lokasi tersebut tidak terjangkau sinyal telepon selular. Praktis, selama masa pengabdian, Ari tidak bisa menggunakan ponsel, kecuali harus pergi ke kota terdekat.

“Saya sangat menikmati terjun langsung ke masyarakat, membimbing anak-anak belajar dan mengajak orang tua untuk lebih peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Juga memotivasi guru-guru untuk lebih rajin dan kreatif dalam pembelajaran di kelas,” ujar Ari.

Hal yang paling membahagiakan bagi Ari adalah ia bisa membayar kebaikan yang ia peroleh selama ini kepada masyarakat yang membutuhkan dalam bentuk tenaga dan pikiran. Pengalaman selama menjadi Tanoto Scholar telah menginspirasinya untuk terlibat dalam peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comments