Kamis, 28 November 2019

4 Inovasi Anak Muda  Ramaikan Tanoto Student Research Award 2019

Inovasi berperan penting dalam kemajuan bangsa. Melalu inovasi yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, kualitas sumber daya manusia akan meningkat dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Inovasi juga dapat menciptakan efisiensi dalam perekonomian, sehingga produk-produk yang dihasilkan semakin kompetitif.

Menyadari pentingnya inovasi, Tanoto Foundation menggelar Tanoto Student Reseacrh Award dengan menggandeng empat perguruan tinggi mitra, yaitu Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Sumatera Utara, dan Universitas Hasanuddin. Dimulai dari 2007, TSRA telah mendukung 500 penelotian aplikatif di bidang teknologi, kesehatan, pertanian dan lingkungan.

Pada TSRA 2019, delapan tim diundang ke Jakarta untuk mempresentasikan penelitiannya di hadapan para jurnalis adalam acara Media Briefing TSRA 2019 di Soehanna Hall, Jakarta, Rabu (27/11). Empat dari delapan penelitian tersebut adalah:

ABEVEST (Automatic Beehive Harvester)

ABEVEST adalah sarang lebah madu modern yang terintegrasi dengan Internet of Things (IoT).  Dengan alat ini, peternak dapat memantau kondisi lebah, seperti berat madu terisi, temperatur, dan kelembapan kandang  secara realtime. Alat ini juga mampu memanen madu secara otomatis melalui aplikasi ponsel pintar, sehingga dapat meningkatkan efisiesni dan efektivitas budidaya lebah madu.

ABEVEST dikembangkan oleh Yusuf Muhammad Wibisono, mahasiswa Rekayasa Pertanian ITB  bersama timnya. Menurut Yusuf, ABEVEST memiliki fungsi utama untuk memanen madu murni secara otomatis hanya dengan menggunakan smartphone android kapanpun dan dimanapun. Alat tersebut merupakan hasil kolaborasi interdisplin ilmu yang menjadi suatu terobosan teknologi agrikultur dalam menyongsong revolusi industri 4.0 di Indonesia.

Erbron-C (Ergonomic Brondolan Collector)

Erbron-C adalah alat pengumpul brondolan buah kelapa sawit ergonomis. Menurut Tegar Nur Hidayat, juru bicara tim dari IPB tersebut, alat ini bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas kerja.

“Ide kami berawal dari fakta bahwa pengutipan brondolan sawit secara manual tidak efektif dan efisien, bahkan cara tersebut menimbulkan kelelahan pekerja yang tinggi. Cara manual juga mengakibatkan brondolan tak terkutip secara maksimal, di mana potensi kerugian brondolan yang tidak terambil adalah 131  – 281 kg/ha/hari. Dengan Erbron-C, kami yakin bisa meningkatkan produktivitas kerja dan mengurangi kerugian hasil panen kelapa sawit. Alat ini juga telah diminati beberapa perusahaan perkebunan di Sumatra dan Kalimantan,” tutur Tegar Nur Hidayat.

4PHd (Papan Partikel Penyerap Polutan Hasanuddin)

4PHd dikembangan tim dari Universitas Hasanuddin yang diketuai Ainun Ade Putri bersama timnya dari mahasiswa Fakultas Kehutanan dan Fakultas Farmasi. Papan partikel merupakan papan komposit yang banyak dimanfaatkan untuk jadi bahan baku meubel. Inovasi papan partikel ini dicampurkan ekstrak lidah mertua yang dihasilkan melalui metode maserasi sehingga bisa menyerap polusi udara.

 

Selain itu, produk ini juga memiliki keunggulan lain, misalnya tidak menggunakan perekat (Binderless Particle Board), sehingga tidak ada emisi gas yang dihasilkan.  “Penelitian ini dilakukan bukan hanya sekedar untuk berkompetisi namun memang kami sangat prihatin atas pencemaran udara,” ujar Ainun.

Kertas Ramah Lingkungan Berbahan Dasar Serbuk Selulosa

Tim dari Universitas Sumatera Utara ini mengembangkan teknik produksi kertas ramah lingkungan berbahan dasar serbuk selulosa bakteri dengan metode agitasi. Rio Cahyono Siahaan, ketua tim tersebut mengatakan bahwa teknik produksi ini akan bisa mengurangi masalah ketergantungan bahan kayu sehingga menjadi alternative baru dalam produksi kertas terbarukan yang ramah lingkungan.

Jika suatu saat penelitian ini dikembangkan dan diaplikasikan secara komersial, diharapkan bisa menjadi alternative untuk memenuhi kebutuhan konsumi kertas dunia yang mencapai 394 juta ton pada 2020. Sementara, konsumsi kertas di Indonesia juga diperkirakan meningkat dari 93,6 juta ton pada 2019 menjadi 99,5 juta ton pada 2020.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comments