#TanotoFoundation #TSAUGM #EntikongXpedition #MenjadiTeladan

Jumat, 12 April 2019

Cerita Fahmi di Entikong : Mendamba Diri di Perbatasan, Merengkuh Asa di Pengabdian

Mendamba Diri di Perbatasan, Merengkuh Asa di Pengabdian

Oleh: Fahmi Rizki Fahroji

Ketika pertama kali saya pergi ke Entikong, perbatasan antara Kalimantan Barat dan Malaysia pada bulan Februari 2019 silam, saya tidak pernah menduga bahwa perjalanan itu akan sangat mempengaruhi cara pandang saya selanjutnya. Saat itu, dengan Beasiswa 10.000 atas sponsor yang diberikan Tanoto Foundation, saya bersepakat bahwa maksud dan tujuan dari perjalanan tersebut adalah melakukan pengabdian masyarakat dalam revitalisasi Pendidikan dan sosial di Dusun Punti Engkaras, Desa Nekan, Entikong. Tidak banyak informasi yang saya dapatkan. Dari rekan di sana, yang sudah survey terlebih dahulu, akses menuju desa—katanya—sangat sulit, dan itu betul! Perjalanan kami dengan bus menempuh selama tujuh jam dari Pontianak. Sesampainya di dusun, keramaian warga menyambut kedatangan kami. Dengan pasukan yang berniat memberikan bekal pengajaran, kami siap meninggalkan ruang-ruang kenyamanan kami di tengah hiruk-pikuk duniawi.

Hari-hari saya di Entikong dihabiskan dengan mengajar, berladang, dan ngetam (panen) bersama pemuda desa. Pagi hingga siang, kami habiskan untuk belajar dan bermain. Jika sore tiba, kami menjalankan program-program bahkan hingga malam—malam yang diisi dengan dangdutan. Perbedaan cukup mencolok dengan kami. Orang-orang Engkaras begitu akrab dengan alam. Mereka berteman dengan pepohonan yang menyelimuti desa, dengan sungai yang menghidupi mereka, serta lalu-lintas manusia di tengah ketenangan orang-orangnya. Selalu, menjelang pagi, suasana di sekitar tempat itu terasa agak segar. Babi-babi berlarian dan anjing-anjing berkeliaran. Melalui lubang-lubang jendela dalam keremangan fajar saya saksikan sosok-sosok coklat melingkar di satu putaran tengah merokok dan bercakap satu sama lain. Tak semua dari mereka pergi ke ladang karena tidak semua memilih itu. Tak semua dari mereka sekolah karena akses dan fasilitas lah yang membatasi. Tampaknya, pembangunan memang belum menyeluruh di setiap sudut negeri ini. Agaknya, hidup orang-orang ini memang tidak sepadan melihat sisi lain di balik bukit perbatasan.

Satu waktu yang saya ingat selalu, bagaimana orang-orang Engkaras memperlakukan saya selayaknya teman. Mereka bertindak laiknya teman yang tak mengenal batas orang desa atau orang kota. Saat itu, maksud dan tujuan mencari bambu dan kayu untuk api unggun berakhir menjadi tragedi kebahagiaan. Saya bahagia dapat merasakan aliran air sungai dengan bambu di pelukan. Orang-orang Engkaras, di kala mereka menebang bambu dan kayu, mereka menghanyutkannya ke sungai supaya mengalir sampai ke pemukiman. Cara-cara ini tak mungkin saya temukan di kota apalagi di kampus. Bahkan di satu malam usai mencari buah, mereka mengajak saya berkunjung ke rumah abang dan kakak di Engkaras. Di sana, berkumpul dengannya tuak dan arak di tengah lingkaran. Bagi orang Engkaras, tuak dan arak sudah menjadi suatu keharusan dalam suatu perkumpulan. Aroma tuak dan arak menghangatkan tubuh setiap warga di lingkaran itu. Mereka bersenda gurau dan bercerita dengan Bahasa mereka diselingi tegukan minuman jahat tipis-tipis.

Saya ingat betul bagaimana mereka, anak-anak sekolah dasar, meneriaki saya saat latihan upacara berlangsung, “Kak Fahmi, ayo latihan lagi!”, “Aku udah hafal kak”, “Kak abis ini kita main bola ya”. Anak-anak ini, yang memakan hari-hari kami adalah pembelajar tanpa pengajar. Mereka berjuang meski mereka tidak tahu apa yang mereka perjuangkan. Mereka belajar dengan gigih, menggapai asa dan cita, tanpa pernah mereka tanyakan apakah mereka mampu atau tidak. Anak-anak ini mencintai diri mereka di kala apapun kondisi mereka. “Bang Fahmi, tadi pagi anak-anak yang sekolah di Tapau mereka jalan kaki muter ke perkebunan sawit karena banjir di sungai” Pak Surya memberitahu seraya saya bersiap untuk pergi ke sekolah di Punti Engkaras. Saya terperangah dengan itu. Bukan hanya memutar jalan, mereka juga mesti berjalan sekitar 3-4 km. Saya tidak mengerti bagaimana perasaan anak-anak ini. Yang pasti, murid kelas 4-6 selalu berjalan setiap pagi ke sekolah dengan waktu tempuh 30-45 menit karena sekolah yang dibagi menjadi dua; Engkaras dan Tapau.

Namun, lagi-lagi, fasilitas dan akses yang kian rentan dan jauh dari maksud dan tujuan Pendidikan menjadi penghalang bagi mereka. Tenaga didik yang hanya dimonopoli oleh satu orang menjadikan semakin jauhnya cita-cita di masa depan. Mereka, bagi saya, telah memberikan kebahagiaan. Anak-anak sekolah dasar yang tak kenal lelah, yang bertekun di kala gelap dan bersyukur di kala terang. Mereka ini, akan menjadi pelopor dalam kemajuan desa nya di masa depan. Mereka ini yang mengajarkan saya arti sebuah perjuangan dalam meraih Pendidikan. Malu, kata yang pantas untuk mendeskripsikan diri ini. Anak-anak itu tak mengerti kemalasan. Andai mereka mengetahui itu, pasti lah mereka akan selalu bersyukur. Bahkan jika tidak, mereka tetap melakukan. Begitu lah, pengalaman saya menjadi relawan pengabdian bukan hanya sekadar pengalaman, ia menjelma bagai pelajaran yang tak saya temukan di perkuliahan. Meskipun begitu, sepekan rasanya tidak cukup untuk memahami dan mengabdi, tetapi dalam sepekan itu banyak pelajaran yang saya gali. Benar apa kata Pram, “Berterimakasihlah pada segala yang memberi kehidupan”: segala pelajaran dan pengalaman yang didapatkan, serta segala kenyataan hidup yang dipertunjukkan. Tujuh hari pengabdian, setidaknya, memberikan gambaran orang-orang di perbatasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

AUTHOR

Digital Team