Read Also

Dulu, saya tidak pernah bermimpi untuk ke luar negeri hingga saya menerima beasiswa Tanoto Foundation dan saya termotivasi untuk belajar dan mau mencari tahu lebih jauh mengenai dunia luar.

https://www.instagram.com/p/BoGHBBxgI39tJM7U_HDDARMxs5WFTmlDDMSBq80/

Halo, Perkenalkan saya Tia dari Universitas Mulawarman, salah satu penerima beasiswa Tanoto Foundation yang baru saja menyelesaikan studi selama 5 minggu di University of Montana, USA. Saya diberi kesempatan untuk belajar mengenai Global Environmental Issues and Natural Resources Management dari Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI).

Program ini berlangsung dari tanggal 22 Agustus hingga 28 September 2018 dan diadakan oleh US Embassy yang ditujukan kepada anak muda berbakat di regional ASEAN. YSEALI memiliki berbagai jenis program, dan program yang telah saya jalani yaitu Academic Fellowship yang diadakan dua tahun sekali yaitu Fall (Juni-Oktober) dan Spring (Oktober-April).

https://www.instagram.com/p/BpMJWGeHxMEo6bjdR978uwIvJRtLVeII850hGw0/

Ada 21 orang yang terpilih dalam program YSEALI Academic Fellowship FALL 2018 di University of Montana. Mereka berasal dari Malaysia, Filipina, Laos, Thailand, Cambodia, Vietnam, Myanmar dan 4 orang di antaranya berasal dari Indonesia. Ainna Fisabilla yang berasal dari Universitas Indonesia, Faisal Maulana dari Unversitas Lambung Mangkurat, Citra Endah dari Universitas Islam Yogyakarta dan saya dari Universitas Mulawarman. Kami memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda-beda tapi kami memiliki ketertarikan isu yang sama yaitu dalam bidang environmental, dimana Ainna berfokus pada sanitasi, Faisal dan saya berfokus pada waste management, dan Citra berfokus pada pertanian.

Perjalanan kami dimulai ketika kami ketinggalan pesawat dari Narita, Jepang menuju Colorado, USA karena kesalahan teknis yang terjadi di bandara Soekarno-Hatta, Indonesia. Hal ini membuat kami panik dan bahagia. Bahagia karena ketinggalan pesawat ini mengharuskan kami melanjutkan perjalanan dari Jepang menuju USA pada keesokan harinya sehingga kami memiliki waktu luang untuk explore Jepang. Satu hal yang sangat berkesan di Jepang yaitu mereka sangat disiplin dalam hal waktu.

Akhirnya, kami melanjutkan perjalanan ke USA dalam waktu kurang lebih 12 jam. Kami pun tiba di States of Montana. Montana merupakan States yang berbatasan dengan Canada. Kami disambut hangat oleh Program Director, beliau menjemput kami di bandara Montana. Spontan, kami sangat terkejut karena beliau yang menjemput kami. Kemudian kami melanjutkan dengan makan malam dan berkenalan dengan teman-teman dari negara ASEAN lainnya. Selama 4 minggu kami belajar di Montana, yang kami pelajari yaitu mengenai isu-isu lingkungan seperti climate change, waste management, conservation, dll.

Kami belajar tidak hanya dalam kelas, namun kami juga memiliki berbagai kegiatan menarik lainnya seperti hiking, mengunjungi masyarakat lokal (Native America), berbagai komunitas hingga instansi pemerintahan. Kami sangat menikmati dan senang dengan berbagai aktivitas selama di Montana. Selain itu, penduduk setempat yang sangat ramah, cuaca yang dingin walaupun saat itu musim panas menuju musim gugur namun suhu di luar ruangan bisa mencapai 4°C. Suatu kali saat Tia dan teman-teman sedang menikmati farmer’s market di Missoula, salah seorang penduduk setempat menawarkan bantuan untuk mengambil foto mereka. Hal ini membuat Tia dan teman-teman jatuh cinta dengan Missoula. Tujuan dari program ini bukan hanya untuk mempelajari isu-isu lingkungan tapi juga memperkenalkan budaya Amerika kepada kami. Salah satunya yaitu kami diberi kesempatan untuk menikmati menginap dan weekend bersama penduduk Amerika.

Dalam minggu terakhir di USA, kami menuju New Orleans, dimana States ini terkenal karena merupakan tempat lahirnya musik Jazz dan juga terkenal dengan keindahan Mississippi River. Selama berada di New Orleans, kita dapat menikmati musik di pinggir jalan, restaurant, dan lobby hotel. Selama di New Orleans, kami juga melakukan tour ke beberapa tempat salah satunya Grow Dat Youth Farm, dimana kami belajar mengenai sustainable organic farming yang akan diberikan kepada penduduk lokal, yang menarik ialah tempat ini tidak hanya dijadikan sebagai lahan pertanian, tapi juga dijadikan tempat belajar untuk bertani mulai dari anak kecil hingga dewasa.

Sebagai tempat terakhir yang kami kunjungi, kami menuju Washington DC yang merupakan ibukota dari Amerika. Begitu banyak tempat bersejarah yang dapat dikunjungi, salah satunya yaitu Lincoln Memorials dan Martin Luther King Jr Memorial. Dalam perjalanan ini, kita mendapat sedikit informasi bagaimana sejarah Amerika dan melihat bagaimana orang-orang Amerika sangat menghargai sejarah yang dibuktikan dengan mereka memberikan setiap informasi mengenai patung atau benda bersejarah lainnya di pinggir dari benda tersebut bahkan memahat tulisan mengenai sejarahnya di sebuah dinding raksasa.

Begitu banyak hal yang kami pelajari dan membandingkannya dengan Indonesia. Salah satu yang paling urgensi di negara kita yaitu isu penggunaan plastik sekali pakai. Hal itu juga menjadi isu dari berbagai negara ASEAN lainnya. Solusi nyata untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai itu dengan merubah kebiasaan kita untuk meminimalisir penggunaan plastik dengan menggunakan tumbler, membawa tas jinjing apabila sedang berbelanja ke supermarket atau pasar, selain itu kita juga bisa berkontribusi dengan menerapkan konsep zero waste, juga kita bisa mengganti sedotan plastik dengan sedotan stainless.

Mulailah dari hal-hal kecil dan sederhana namun terus berlanjut (sustainable) untuk menyelamatkan bumi kita! Selain itu juga, selama di sana kami disadarkan bahwa persoalan lingkungan adalah tanggung jawab semua orang, karena bumi yang kita tempati ini dalah milik semua orang. Mari, kita mulai dari diri sendiri dan rumah untuk menjaga bumi kita.


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *