Selasa, 20 Agustus 2019

Guru, Pengajar yang Belajar

Ibu Suhelia Yanuarmi atau lebih sering dipangil Ibu Mimi tercenung. Apa yang didapatkan dari pengalamannya mengikuti pelatihan numerasi awal di Yogyakarta benar-benar menyentuh, bukan cuma pemikiran namun juga perasaannya.

Dalam pelatihan numerasi awal yang diadakan atas kerja sama Tanoto Foundation dan program INOVASI, Ibu Mimi Bersama para peserta lainnya belajar tentang pemahaman dan kemampuan numerasi awal apa yang harus diperkenalkan kepada siswa-siswa kelas awal. Pelatihan ini juga memperkenalkan bagaimana memberdayakan berbagai benda yang ada ataupun mudah didapatkan dari lingkungan sekitar untuk mengembangkan pemahaman dan kemampuan-kemampuan tersebut.

Sehari-hari, Ibu Mimi mengajar di SDN 01 Benteng Hulu, Kecamatan Mempura, Kabupaten Siak, Riau. Ibu Mimi adalah salah satu fasilitator daerah Program PINTAR Tanoto Foundation. Selama ini, ia sudah banyak berkiprah memfasilitasi pelatihan untuk guru maupun melakukan pendampingan ke sekolah. Karena kepedulian dan rasa cintanya dengan dunia pendidikan, sepulang dari pelatihan numerasi awal, Ibu Mimi bertekad berbagi pengalaman dan ilmu dengan para guru yang lain. Kebetulan beberapa hari kemudian, para fasilitator daerah Kabupaten Siak berkumpul untuk melakukan pertemuaan koordinasi rutin. Di situlah Ibu Mimi memberanikan diri mengemukakan sekelumit pengalaman yang didapat sekaligus menawarkan untuk berbagi ilmu.

Gayung bersambut, para fasilitator daerah yang memang haus dengan pemahaman dan ilmu-ilmu baru sangat antusias menanggapinya. Secara spontan dan tanpa dikomando, mereka merencanakan kegiatan workshop bukan hanya untuk para fasilitator daerah, namun juga terbuka untuk para guru yang lain yang tertarik. Dalam waktu singkat, melalui komunikasi antar guru dan media sosial, Ibu Mimi sudah mengumpulkan 32 peserta workshop. Mereka bukan hanya para fasilitator daerah yang jumlahnya hanya 10 termasuk Ibu Mimi, namun guru-guru dari berbagai kecamatan terdekat. Kegiatan direncanakan dilaksanakan di SDN 01 Benteng Hulu. Kebetulan kepala sekolah Ibu Mimi juga menyambut baik kegiatan tersebut.

Seminggu kemudian terlaksanalah kegiatan tersebut. Walaupun waktu pelaksanaan hanya satu hari, namun waktu benar-benar dimanfaatkan dengan baik. Para peserta datang dengan berbagai perlengkapan, alat, dan bahan yang memang sudah dikomunikasikan sebelumnya, seperti  tutup botol bekas, papan tulis mini, benang, kancing baju, biji-bijian dan sebagainya. Dengan menggunakan alat dan bahan tersebut, Ibu Mimi membantu para peserta belajar memperkenalkan konsep-konsep bilangan seperti urutan bilangan, nilai tempat, operasi hitung, estimasi dan sebagainya.

Proses belajar yang interaktif dengan menggunakan media media sederhana pun terbukti membuat para peserta sangat antusias mengikuti workshop ini. “Ternyata mudah dan murah memperkenalkan konsep-konsep bilangan yang selama ini bikin kami pusing,” ujar beberapa peserta.

Namun bukan hanya proses yang menarik yang patut dicatat dari kegiatan ini.  Kerelaan seseorang untuk berbagi pemahaman dan pengalaman disambut dengan keinginan dan kemauan para guru untuk belajar. Dan dari situlah, hal-hal baik terlahir. Sebuah kegiatan yang dilaksanakan dari dan untuk guru. Ibu Mimi tidak berharap dan tidak meminta imbalan. Para peserta tidak perlu membayar untuk berkegiatan. Kegiatan dilaksanakan tanpa pungutan biaya sepeser pun.

Karena kegiatan berlangsung satu hari penuh, para peserta memang diharapkan membawa bekal makanan dan minuman mereka masing-masing. Walhasil pada pelaksanaannya, malah para peserta hadir dengan bekal yang sengaja mereka lebihkan agar mereka dapat berbagi satu dengan yang lain, sungguh pemandangan yang sayang untuk dilewatkan. Bahkan kegiatan ini diapresiasi dengan baik oleh Dinas Pendidikan setempat dengan menyempatkan hadir dan memberikan dukungan moril bagi pelaksanaan kegiatan tersebut.

Sebuah contoh sederhana seperti inilah yang dibutuhkan oleh pendidikan negeri ini untuk memperbaiki kualitasnya. Para guru berkumpul dan dikumpulkan oleh semangat yang sama yaitu bahwa kewajiban mereka sebagai guru untuk belajar dan (saling) membelajarkan, bahwa pengajar yang baik adalah pembelajar yang baik. Terima kasih Ibu Mimi, terima kasih para guru.

Artikel ini ditulis oleh Sasmoyo Hermawan, Tanoto Foundation Riau

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comments