Rabu, 27 Maret 2019

Calon Guru di Perguruan Tinggi Mitra Tanoto Foundation Semakin Kreatif dengan MIKir

Ditulis oleh: Kiki Fatmawati, dosen UIN Sulthan Thaha Saifuddin, Jambi.

Guru adalah sosok sentral dalam memajukan pendidikan di Indonesia. Sampai saat ini kualitas pendidikan di Indonesia secara rata-rata masih tertinggal dibanding negara tetangga di kawasan Asia Tenggara. Memang ada murid-murid berprestasi yang menjuarai beberapa olimpiade ilmu pengetahuan skala internasional. Tapi masih banyak kemampuan literasi anak-anak di Indonesia yang berada di bawah rata-rata.

Guru berkualitas bisa membantu mengurangi kesenjangan kualitas pendidikan di Indonesia. Bila semua guru memiliki kualitas setara, baik di perkotaan maupun di pedesaan, maka kualitas murid pun akan setara dari Sabang sampai Merauke. Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas guru di Indonesia adalah dengan mempersiapkan calon guru agar memiliki kemampuan unggul. Lalu bagaimana caranya agar guru-guru tersebut bisa memiliki kemampuan unggul? Salah satu caranya adalah mempersiapkan mahasiswa di jurusan pendidikan agar memiliki kompetensi terbaik.

MIKiR

Hal tersebut sudah saya lakukan di jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Universitas Islam Negeri (UIN) Sulthan Thaha Saifuddin, Jambi, tempat saya mengajar. Saya mulai memperkenalkan metode MIKiR alias Mengalami, Interaksi, Komunikasi, dan Refleksi kepada mahasiswa saya. Metode ini mempermudah mereka dalam memahami sebuah permasalahan atau bahan ajar.

Waktu itu di jurusan PGMI ada mata kuliah Pembelajaran IPA MI/SD yang saya mampu mengenalciri-ciri tumbuhan dikotil dan monokotil. Saya meminta para mahasiswa membawa tumbuhan yang ada di lingkungan tempat tinggal mereka. Tugas ini dibuat secara berkelompok dengan anggota berjumlah tujuh orang. Setelah berada di dalam kelas, mereka mengidentifikasi tanaman-tanaman yang mereka bawa apakah termasuk dikotil atau monokotil. Setelah itu mereka mendiskusikan lebih detail lagi seperti bagaimana cara perkembangbiakannya. Melalui metode MIKiR ini ternyata mahasiswa menikmati proses kuliah dan pemahaman mereka terhadap materi juga lebih baik.

“Metode MIKiR ternyata memudahkan kita untuk memahami materi, karena kita merasakannya langsung. Cara ini memudahkan guru, karena hanya bertindak sebagai fasilitator. Tapi hasilnya tetap optimal, karena murid bisa lebih mudah memahami materi,”

Zulfitrah mahasiswa PGMI, UIN Sulthan Thaha Saifuddin.

Saat saya mengikuti training of trainers fasilitator daerah dan Lembaga Peningkatan Tenaga Kependudukan yang diadakan Tanoto Foundation, saya menyambut baik inisiatif tersebut. Metode pengajaran MIKiR bisa meningkatkan kreativitas guru dan murid. Kualitas guru maupun murid akan meningkat bila bisa konsisten menerapkan pengajaran kreatif seperti ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comments