Senin, 8 April 2019

Benny Wahyudianto, Tanoto Scholar yang Sukses Teliti Supramolekular di Jepang

Benny Wahyudianto, Tanoto Scholar angkatan 2013 dari Universitas Gadjah Mada ini menjadikan pendiri Tanoto Foundation Sukanto Tanoto sebagai inspirasinya. Kesempatan mendengarkan sambutan Sukanto Tanoto dalam Tanoto Scholars Gathering 2013, memotivasinya untuk bekerja cerdas dan terus belajar. Kini Benny menempuh Program Master Kimia di Osaka University, Jepang.

Saat ini, dia tidak hanya dokus melakukan sintesis senyawa supramolekular berbasis logam emas saja, tetapi juga mengembangkan potensi senyawa tersebut sebagai katalis dan material sensor. Benny mendapatkan program beasiswa Tanoto Foundation pada 2013, saat dirinya belajar di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UGM. Menurutnya, menjadi keluarga besar Tanoto Foundation adalah sebuah pengalaman yang berharga.

“Bagian terbaik saat saya menjadi Tanoto Scholar adalah mendengarkan sambutan dari Bapak Sukanto Tanoto pada 2013 silam.  Beliau secara tidak langsung adalah motivator saya. Beliau menjelaskan bahwa salah satu kiat membangun usahanya adalah belajar dari sebuah atau beribu-ribu kegagalan,”

Benny Wahyudianto


Benny terkesan dengan pengalaman Sukanto Tanoto yang selalu bangkit dan belajar dari kegagalan. Prinsip itu membuat Sukanto Tanoto sukses membangun Royal Golden Eagle Group berkembang menjadi perusahaan berskala global.

“Saat muda, beliau berkeliling beberapa belahan dunia untuk bertemu dan mendengarkan cerita mengenai kegagalan-kegagalan pengusaha dalam menjalankan perusahaanya. Nilai penting yang saya peroleh dari pidato tersebut adalah filosofi untuk bangkit dan belajar dari sebuah kegagalan,”

Benny.

 

Hambatan dan rintangan adalah wajar bagi setiap orang. Begitu juga yang dirasakan Benny. Saat pertama kali menginjakkan kaki di Jepang pada 2017, berat badannya turun 10 kg dalam waktu 1 minggu saja. Perbedaan kemajuan teknologi di Jepang memaksanya untuk belajar sangat keras untuk menguasai setidaknya 15 instrumen penelitian dalam tenggat waktu 2 bulan.

Tidak kurang dari 300 eksperimen yang ia lakukan berakhir dengan kegagalan. Namun Benny selalu bangkit dari kegagalan, hingga berhasil menemukan kunci untuk menyelesaikan penelitian mengenai kimia koordinasi, senyawa supramolekular, dan kristalografi di Konno Laboratory, Osaka.

Sejak pertama kali datang di Osaka, fokus penelitian Benny adalah sintesis senyawa supramolekular berbasis logam emas dan mengembangkan senyawa tersebut sebagai katalis dan material sensor. Sekarang, ia sedang mempersiapkan draft publikasi (manuskrip) untuk menyebarluaskan temuan baru tersebut. Selain itu, ia bersama tim di Konno Laboratory sedang mengupayakan hak paten dalam rangka mengomersialkan aplikasi dari senyawa tersebut.

“Selain berdoa, bekerja dengan cerdas adalah kunci penting dari sebuah kesuksesan daripada hanya sekadar bekerja keras,”

Benny.

Comments