Read Also

Akhir-akhir ini, ada perubahan pada siswa-siswi MTsN 1 Balikpapan, Kalimantan Timur. Apapun pelajarannya, mereka selalu antusias belajar di kelas. Ternyata, para guru di sekolah tersebut telah menerapkan MIKIR atau Mengalami, Interaksi, Komunikasi, dan Refleksi.

MIKIR adalah unsur dari pembelajaran aktif yang baru dikenalkan oleh Tanoto Foundation kepada para pendidik dari 24 sekolah dan madrasah mitra terpilih di Balikpapan. Antusiasisme terlihat saat pembelajaran di kelas dan ungkapan-ungkapan para siswa setelah pembelajaran.

“Biasanya kami diajar dengan metode ceramah dari guru sehingga kami cepat bosan. Hari ini pembelajarannya sangat asyik, sangat menyenangkan. Kami jadi lebih mudah memahami materi yang diajarkan,” ujar Apriliani, siswa kelas VII yang diajar oleh Sri Rejeki yang hari itu memfasilitasi pembelajaran tentang larutan asam, basa, dan garam.

Ridho teman Apriliani juga menyatakan hal yang sama. “Belajar dengan praktik membuat saya sangat bersemangat,” ujarnya. Bersama Indah, Ridho juga menyatakan dengan tegas bahwa mereka lebih memilih pembelajaran model MIKIR dibanding dengan model ceramah yang biasa dilakukan para guru.

Menurut Sri Rezeki, guru MTsN 1 Balikpapan, menerapkan MIKIR memang efektif untuk membuat siswa belajar aktif. Siswa menjadi terlibat dengan pembelajaran dan menjadi sangat antusias.

“Kalau pembelajaran dengan metode ceramah, siswa biasa mengantuk, sering bosan,” Sri Rejeki.

Konsekuensinya, guru harus menguasai materi dan cara penyampaian pembelajaran di kelas. Menurut Ibu Sri, pembelajaran dengan MIKIR memang membutuhkan persiapan yang lebih banyak. “Bahkan kemarin saya sampai malam mempersiapkannya,” tambahnya.

Sri Rezeki merupakan salah seorang dari 135 peserta kegiatan Pelatihan Praktik Baik Pembelajaran untuk SMP dan MTs yang digelar menjadi dua gelombang di Balikpapan akhir 2018 lalu.

Selama tiga hari para peserta Program PINTAR Tanoto Foundation yang bekerja sama dengan Kemendikbud, Kemenag dan Kemenristekdikti ini dilatih menerapkan unsur belajar aktif MIKIR.

Mereka didorong untuk mengembangkan lembar kerja dan pertanyaan tingkat tinggi, pengelolaan lingkungan belajar, dan budaya baca. Peserta juga bersimulasi dengan pendekatan yang baru dikenalkan tersebut dan langsung berpraktik di sekolah pada hari ketiga.
Syaiful Bahri, Kepala Bidang Sekolah Menengah Pertama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Balikpapan, berharap banyak dengan pelatihan ini.

“Mulai tahun 1983 sampai guru mendapatkan sertifikasi, saya tidak melihat perubahan kinerja guru yang signifikan. Saya berharap dengan pelatihan ini, kinerja guru dalam pembelajaran meningkat dengan pesat,” ujar Syaiful Bahri.

Program PINTAR, atau Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pembelajaran merupakan inisiasi Tanoto Foundation dalam meningkatkan kualitas pendidikan dasar yang fokus membangun praktik-praktik baik pembelajaran, manajemen dan kepemimpinan sekolah, mendukung pemerintah menyebarluaskan praktik-praktik baik, dan mendukung Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dalam pendidikan calon guru.


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *