Read Also

Lega hati saya menyaksikan Syahrial, murid kelas 6 SDN 010156 Sei Muka, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara menyelesaikan story telling dengan baik tanpa hambatan apapun. Wajar saya deg-degan, karena Syahrial harus bercerita di depan Ibu Belinda Tanoto, anggota Dewan Pembina Tanoto Foundation dan Bapak Hamid Muhammad, M.Sch., Ph.D., Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah saat peluncuran program PINTAR di Gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.


Saya tahu Syahrial akan mampu melakukan hal tersebut, karena dia sudah terlatih membawakan cerita sejak kelas 3 SD. Murid-murid di sekolah kami memang terbiasa melakukan story telling sejak empat tahun lalu.
Kebiasaan ini berawal setelah saya mengikuti pelatihan yang diadakan Tanoto Foundation mengenai pelatihan pembelajaran kreatif bagi guru. Setelah mengikuti pelatihan, saya mencoba mengimplementasikan metode pembuatan media pembelajaran untuk membantu proses belajar anak-anak.

Caranya adalah membuat media pembelajaran sederhana dengan barang-barang bekas, jadi tidak memberatkan murid dan orangtua. Dalam waktu seminggu, ternyata anak-anak sudah bisa membuat media pembelajaran sendiri.
Bentuk media pembelajaran yang dibuat beragam seperti piramida cerita, diorama, dadu wartawan, buku besar, dan lainnya. Tujuan pembuatan media tersebut adalah mempermudah anak-anak mengingat materi yang sudah mereka baca.

Misalnya saja setelah Syahrial membaca buku Legenda Batu Belah, legenda masyarakat Batu Bara, dia membuat piramida cerita dengan tiga sisi piramida yang berisi garis besar cerita tersebut. Media pembelajaran lainnya memiliki manfaat yang sama.

Hasilnya ternyata cukup menggembirakan. Anak-anak lebih mudah menyerap isi dari pelajaran yang mereka baca. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia misalnya, bila menggunakan metode konvensional dengan membaca diam atau guru menerangkan lalu diadakan ulangan, nilai yang mereka peroleh sekitar 60-70.Setelah menggunakan media pembelajaran, nilai murid untuk pelajaran bahasa ratarata 90-100. Peningkatan yang cukup signifikan.
Metode yang saya dapatkan dari pelatihan Tanoto Foundation ini terbukti efektif untuk membantu murid memahami pelajaran. Hal ini menguntungkan para murid maupun guru. Pemahaman yang baik terhadap isi pelajaran adalah modal penting bagi mereka untuk menghadapi pelajaran yang lebih kompleks di tingkat atasnya. Bagi guru hal ini memudahkan kami, karena tidak perlu menerangkan berkali-kali.

Setelah menerapkan sistem belajar yang menyenangkan bagi murid, saya ingin keberhasilan ini bisa diadopsi oleh sekolah-sekolah lain. Saya ingin SDN 010156 Sei Muka jadi sekolah model bagi sekolah lain di Kabupaten Batubara.

Jadi mereka bisa belajar gratis di sekolah kami bagaimana menerapkan sistem belajar-mengajar yang menyenangkan dan efektif. Semoga niat ini bisa terwujud di masa mendatang dan bisa membantu meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Batu Bara.
Ditulis oleh Nuriyani Sihite, Guru Kelas 6 SDN 010156 Sei Muka, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara.


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *