Read Also

Sebuah studi dari World Bank pada 2017 menyebutkan bahwa skor evaluasi guru yang lebih tinggi 10% dapat menghasilkan skor siswa yang lebih tinggi 1,7% pada evaluasi post-test. Ini menunjukkan betapa pentingnya kualitas pendidik dalam meningkatkan pembelajaran siswa.

Sayangnya, kualitas guru di Indonesia masih belum merata. Dalam Uji Kompetisi Guru (UKG) tahun 2017, guru yang tidak lulus karena meraih nilai kurang dari standar yang ditetapkan (81 poin) mencapai 61 persen. Belum lagi masalah kedisiplinan, rata-rata hampir 10% guru tidak hadir pada hari-hari tertentu, bahkan di daerah terpencil porsi ketidakhadiran mencapai dua kali lipat.


Untuk memperbaiki kualitas guru, Tanoto Foundation melalui program PINTAR (Pengembangan Inovasi Kualitas Pembalajaran) mengadakan pelatihan guru dalam meningkatkan kompetensi dan kapasitas mereka. Guru dilatih berbagai topik, diantaranya pengelolaan kelas yang efektif, metode pembelajaran aktif, kreatif dan menyenangkan, serta pembuatan alat peraga sederhana.

Fokus pelatihan dalam peningkatan kualitas guru adalah pembelajaran literasi, numerasi, dan sains (serta bahasa Inggris untuk SMP/MTs). Dari pelatihan tersebut, guru dapat menerapkan pendekatan pembelajaran aktif yang memfasilitasi keaktifan siswa dalam menyelesaikan tugas, memecahkan masalah, dan kegiatan kerja kooperatif dalam kelompok, serta siswa dapat menunjukkan kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam pembelajaran di kelas.

“Pada awal saya datang ke SDN 169/V Cinta Damai, saya berasa mengajar di dalam sebuah bis. Anak-anak duduk rapi menghadap ke depan semua dengan wajah tegang. Seakan akan mereka takut dan tidak nyaman mengikuti pelajaran. Setelah saya menerapkan pembelajaran aktif, anak-anak duduk berkelompok dan aktif bertanya. Mereka juga menikmati dan lebih mudah memahami materi pelajaran,” kata Kiswanto, Guru Kelas VI SDN 169/V Cinta Damai, Jambi.


Program PINTAR menjangkau 5 provinsi di Indonesia, yaitu Sumatera Utara, Jambi, Riau, Jawa Tengah, dan Kalimantan Timur. Pada 2018, program ini diterapkan di 14 kabupaten dan kota. Pada 2019, program ini disebarluaskan ke 30 daerah dan bermitra dengan 810 sekolah.


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *