Read Also

Masuk dalam jajaran talenta global dan berkarier di level internasional adalah dambaan semua orang, tak terkecuali bagi Desi Setyawan, alumni Tanoto Scholar dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Keberaniannya membuka jalan dan bersaing di luar negeri mengantarkannya mencapai posisi eksekutif di perusahaan minyak & gas raksasa yang berbasis di Brunei Darussalam.

Kecintaan Desi terhadap dunia rekayasa (engineering) mulai tumbuh saat menempuh kuliah di Jurusan Teknik Sipil Universitas Islam Sultan Agung, Semarang . Setelah lulus, ia bekerja sebagai engineer di berbagai perusahaan konstruksi di Indonesia.

Desi Setyawan Alumni Tanoto Scholars

#GLOBALTALENTT-Friends, yuk kenalan dengan #globaltalent di bulan Juli ini Desi Setyawan. Ia merupakan alumni #tanotoscholars dari Universitas Gadjah Mada. Saat ini ia bekerja di perusahaan minyak & gas raksasa yang berbasis di Brunei Darussalam. Desi mendapatkan beasiswa Tanoto Foundation saat ia menempuh jenjang Master Business Administration di Universitas Gadjah Mada pada tahun 2010. Karena keberaniannya membuka jalan dan bersaing di luar negeri, ia berhasil mencapai posisi eksekutif di perusahaan minyak & gas raksasa yang berbasis di Brunei Darussalam. Yuk simak kisah lengkapnya di http://ow.ly/TbJZ30kRcsB#globaltalent #tanotoscholaralumni

Posted by Tanoto Foundation on Tuesday, 10 July 2018

Desi merasa punya potensi untuk terus berkembang, pada 2010 ia memutuskan untuk mengambil Master Business Administration di Universitas Gadjah Mada. Pada saat di UGM inilah Desi mendapat dukungan beasiswa dari Tanoto Foundation.

Dengan berbekal pengalaman kerja di dunia engineering ditambah kemampuan strategic management saat mengambil pasca sarjana, Desi percaya diri untuk bersaing dengan profesional-profesional lain dari luar negeri.

Kesempatan pertama ia dapatkan dengan bergabung di sebuah perusahaan di Oman yang memberikan layanan distribusi minyak dan gas ke seluruh negara tersebut. Selama setahun di perusahaan tersebut, Desi juga menangani beberapa proyek di berbagai negara di Asia.

“Saya akui, masuk ke pasar global tantangannya berat. Pertama adalah masalah bahasa, kedua perbedaan budaya, dan ketiga adalah adalah best practices terkait teknis pekerjaan. Setiap kita masuk ke negara baru, tentu kita menghadapi ketiga hal tersebut dan setiap negara mempunyai keunikannya tersendiri,” terang Desi.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, Desi punya tips bahwa kita harus punya visi ke depan. Misalnya, kita harus memikirkan ada di mana dalam lima atau sepuluh tahun ke depan. Dari visi tersebut, kita bisa pecah-pecah menjadi langkah jangka pendek, menengah, dan panjang.
“Kita juga harus mawas diri tentang kelemahan dan kelebihan kita. Kita harus jujur pada diri sendiri tentang kondisi kita. Jika kita sudah baik, pertahankan. Jika masih kurang, ini adalah kesempatan emas untuk melakukan perbaikan,” kata Desi.

Pada 2012, Desi sempat kembali ke Indonesia untuk bekerja di sebuah perusahaan minyak dan gas asing, sebelum akhirnya bergabung dengan perusahaan besar di Brunei Darussalam pada 2014 hingga sekarang.
Menurut Desi, untuk bisa berkarier secara global harus bisa memaksimalkan keahlian di bidang yang digeluti. Sebab, sebuah negara akan mempekerjakan seseorang jika di negara tersebut tidak ada ahli atau hanya sedikit ahli di bidang tersebut. Jadi harus punya kemampuan teknis secara spesifik.

Kemampuan lain yang harus dimiliki adalah leadership, baik memimpin dirinya sendiri maupun sebagai individu yang bisa memimpin tim. Prinsip tersebut selaras dengan nilai-nilai kepemimpinan yang diajarkan pendiri Tanoto Foundation, yaitu Sukanto Tanoto dan Tinah Bingei Tanoto.


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *