Read Also

Bagi Anda pemerhati perwajahan kota-kota besar di Indonesia, tentu tidak asing dengan bangunan-bangunan seperti Ciputra World dan Tunjungan Plaza 6 di Surabaya, Central Park dan Senayan City di Jakarta, atau Trans Studio Complex di Bandung. Iya, gedung-gedung megah tersebut merupakan karya biro arsitek ternama asal Singapura, DP Architects.


Ternyata dari sekian banyak karya-karya mentereng tersebut, ada satu nama Alumni Tanoto Scholar yang ikut andil dalam perancangannya. Dia adalah Achmad Nanang Maulana, atau akrab disapa Nanang.
Nanang menyelesaikan studinya di Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Bandung pada 2008. Semasa berkuliah di ITB inilah, Nanang mendapatkan program beasiswa Tanoto Foundation. Setelah lulus, ia langsung bergabung dengan DP Architects.


Bagi lulusan baru, tentu tidak mudah untuk menembus sebuah biro arsitek level internasional. Namun Nanang telah mempersiapkannya dengan baik. Ia menyiapkan portofolio karya dengan mengambil magang di beberapa biro konsultan.

“Sebelum lulus, saya sudah mengambil magang, salah satunya Urbane di Bandung. Dari situ saya belajar banyak tentang dunia konsultan secara nyata sehingga siap terjun untuk menangani proyek,”

Nanang tidak menampik bahwa ia harus berkompetisi dengan arsitek-arsitek muda dari negara lain, mengingat proyek-proyek DP Architects tersebar di seluruh dunia. Menurutnya skill arsitek Indonesia tidak kalah dari arsitek luar negeri, khususnya dalam hal kreativitas dan desain grafis.

“Kreativitas dan skill desain grafis kita berada di atas rata-rata arsitek Singapura. Namun, kelemahan kita biasanya kurang dalam hal presentasi. Apalagi bagi lulusan baru dan orang Jawa, bisanya malu-malu untuk berbicara di depan umum. Skill yang harus diasah adalah presentasi dalam Bahasa Inggris,”

Sejak 2008, ia sudah terlibat dalam berbagai proyek masterplan dan arsitektural hunian, hotel, komersial dan mixed used di Asia Tenggara, China, India, Timur Tengah, Turki, dan Asia Tengah.

City of stairs #istanbul #turkey #architecture #street #urban #travel

A post shared by Achmad Nanang Maulana (@maulana_an) on


Proyek yang paling berkesan bagi Nanang adalah proyek yang saat ini ditanganinya, Haliç Tersane, di Istanbul, Turki. Ini adalah sebuah proyek konservasi yang berlokasi di daerah dengan banyak bangunan heritage yang akan dialihfungsikan menjadi kompleks tujuan wisata kelas dunia.

“Ini menjadi menarik karena saya harus belajar kembali sejarah. Juga dalam berarsitektur melatih kepekaan saya dalam mendesain. Beda halnya dengan membuat bangunan di lahan kosong. Proyek di Istambul ini merupakan pembelajaran baru bagi saya,” tutur Nanang.


Poin yang menjadi kepedulian Nanang dalam mendesain sebuah karya arsitektur adalah selalu menyisipkan ruang publik untuk dimanfaatkan bersama secara terbuka.

“Meskipun bangunan tersebut untuk fungsi komersial maupun privat, saya ingin tetap ada bagian yang bisa dimanfaatkan untuk masyarakat luas,”


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *