Read Also

 “Buku Lama adalah Buku Baru Bagi Mereka yang Belum Membacanya” -Samuel Butler-

Pepatah “Buku adalah jendela dunia!” adalah pepatah yang seringkali didengar oleh banyak orang. Namun, pepatah ini terasa sangat sulit diwujudkan bagi anak-anak di Desa Tambakrejo, Sumbermanjing Wetan Malang. Keterbatasan dalam fasilitas belajar mengajar menginspirasi Tanoto Scholars Association (TSA) Universitas Brawijaya didukung oleh Tanoto Foundation untuk membuka “Rumah Baca Sahabat Pesisir” sebagai usaha untuk mewujudkan salah satu pilar Tanoto Foundation yakni pendidikan.

Rumah Baca ini dibangun dengan bantuan dari mitra kerja TSA Brawijaya, yaitu pihak Bhakti Alam Sendang Biru. Rumah Baca ini awalnya berupa sebuah bangunan yang dijadikan pos penjagaan oleh Bhakti Alam Sendang Biru. Bangunan tersebut kemudian direnovasi untuk dijadikan Rumah Baca. Pada hari Sabtu, 5 Agustus 2017, TSA Brawijaya melakukan kegiatan sosialisasi terhadap masyarakat sekitar mengenai adanya Rumah Baca di lingkungan tersebut. TSA Brawijaya juga mengundang anak-anak untuk hadir pada pembukaan Rumah Baca yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 12 Agustus 2017

Tiba saatnya pembukaan Rumah Baca. Pada pukul 11.30 WIB, anak-anak dan warga di Desa Tambakrejo, Sumbermanjing Wetan, Malang berdatangan secara silih berganti masuk ke dalam Rumah Baca ini dengan antusias tinggi untuk mengikuti serangkaian acara “Pembukaan Rumah Baca”. Anak-anak yang baru tiba segera menyerbu rak buku yang ada di Rumah Baca. Mereka sangat antusias membaca buku untuk menambah pengetahuan dan wawasan mereka.

“…….. Aku ingin membaca buku biar pintar dan bisa jadi dokter” ujar Alifia salah satu anak yang datang saat pembukaan rumah baca.

Tepat pukul 12.20 WIB, acara pembukaan Rumah Baca dimulai dengan bernyanyi dan bermain bersama anak-anak. Suara tawa dari anak-anak dan warga mulai menghiasi rumah baca ini hingga pembentukan kelompok untuk lomba mewarnai. Lomba mewarnai adalah acara inti dari pembukaan rumah baca ini. Setiap anak-anak diberikan sebuah gambar yakni gambar kelinci ataupun kereta sesuai keinginan mereka. Setelah duduk sesuai kelompok, anak-anak pun segera mengambil crayon sebagai alat warna mereka. Kreativitas dan imajinasi mereka mulai dituangkan saat mewarnai.

Setelah selesai mewarnai, acara selanjutnya dilakukan yaitu lomba memasukkan pensil ke dalam botol. Setiap anak-anak, baik laki-laki dan perempuan berlomba-lomba untuk menjadi yang paling cepat memasukkan pensil ke dalam botol.

Setelah semua rangkaian acara dilakukan, tibalah saat yang paling ditunggu oleh anak-anak yaitu pengumuman pemenang. Walaupun tidak mendapatkan juara, mereka tidak kecewa namun berharap acara di rumah baca bisa terus dilakukan. Bingkisan makanan dibagiakan sebelum anak-anak dan warga pulang. Foto bersama di depan rumah baca dilakukan sebagai akhir dari rangkaian acara pembukaan rumah baca.

Program pembukaan rumah baca ini mendapat apresiasi dari warga dan pengelola pantai tiga warna sebagai penyedia tempat. Mereka berharap dengan adanya rumah baca ini dapat menjadi motivasi bagi anak-anak di Desa Tambakrejo untuk terus membaca dan menambah ilmu agar dapat memberikan perubahan di desa serta dapat menginspirasi masyarakat luas.


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *