Read Also

Singapura, 5 November 2015Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan bentuk penyempurnaan dari Millenium Development Goals (MDGs) yang sudah mencapai tahap akhir di tahun 2015. Dalam pidatonya di hadapan Sidang Umum Perserikatan Bangsa-bangsa bulan September lalu, Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla menyampaikan pentingnya keterlibatan berbagai pihak termasuk masyarakat melalui kegiatan filantrofi dalam  mendukung pencapaian SDGs. Indonesia telah sukses mencapai beberapa indikator kunci MDGs, khususnya yang berkaitan dengan pengentasan kemiskinan, pendidikan, peningkatan kesetaraan, dan lingkungan hidup. Meskipun demikian, masih diperlukan upaya yang lebih keras untuk mencapai indikator MDGs yang lain seperti tingkat kematian bayi dan ibu hamil, prevalensi kasus HIV/AIDS, akses terhadap air bersih di pedesaan dan tingkat melek internet di Indonesia.

Dalam diskusi panel yang digelar Tanoto Foundation dan Nanyang Technological University (NTU) di Singapura, Douglas Broderick, United Nations Resident Coordinator menyatakan, “Kita harus bisa mengukur kemajuan SDGs dari waktu ke waktu. Untuk itu diperlukan data mulai dari tingkat nasional hingga desa, agar capaian dan tantangan SDGs bisa diukur di semua tingkatan.”

Dr. Ali Said, M.A, Kepala Sub Direktorat Indikator Statistik dari Badan Pusat Statistik (BPS), menambahkan bahwa indikator statistik untuk memantau capaian SDGs belum sepenuhnya tersedia. Untuk itu, BPS serta organisasi lain penyedia statistik perlu bekerja sama untuk secara kolektif mendukung upaya SDGs, termasuk dalam penyediaan data, baik untuk perencanaan program maupun untuk pengukuran pencapaian.

Sihol Aritonang, Ketua Pengurus Tanoto Foundation, mengemukakan komitmen untuk mendukung pencapaian SDGs, apalagi Indonesia merupakan salah satu dari empat negara percontohan Post-2015 Partnership Platform for Philanthropy.  “Ini sesuai dengan prinsip pendiri Tanoto Foundation, Bapak Sukanto Tanoto dan Ibu Tinah Bingei Tanoto, bahwa pihak swasta dan lembaga filantropi dapat melakukan karya yang nyata di tingkat daerah untuk mendukung pencapaian MDGs yang sekarang diperluas dalam SDGs”.  Untuk itu, tambah Sihol Aritonang, Tanoto Foundation akan melanjutkan program di bidang Pendidikan, Pemberdayaan Masyarakat serta Peningkatan Kualitas Hidup, dan juga meningkatkan kemitraan.  “Kemitraan Tanoto Foundation dengan lembaga-lembaga di United Nations (PBB) akan diperluas untuk mencakup pengembangan sekretariat bersama, pengembangan platform SDGs di tingkat nasional, serta upaya merumuskan SDGs di tingkat lokal”, tambah Sihol Aritonang.

Dalam sektor pendidikan misalnya, SDG mentargetkan pendidikan bermutu yang inklusif dan merata serta promosi proses belajar sepanjang hidup. Tanoto Foundation berupaya dalam peningkatan mutu dan akses pendidikan. Hingga saat ini, Tanoto Foundation telah melaksanakan Program Pelita Pendidikan dan bermitra dengan lebih dari 320 sekolah di Sumatera Utara, Riau, dan Jambi dalam meningkatkan mutu pendidikannya. Untuk peningkatan akses pendidikan, Tanoto Foundation telah memberikan lebih dari 5,400 beasiswa kepada mahasiswa di Indonesia. Tanoto Foundation juga mendukung pendidikan anak usia dini di Riau, Sumatera Utara, Jambi dan Jakarta.

Dalam upaya Pemberdayaan Masyarakat, Tanoto Foundation dengan mitra korporasi, Asian Agri dalam program Kemitraan Petani Swadaya yang bekerja sama dengan 3.600 petani yang mengelola lebih dari 11.000 hektar kebun kelapa sawit yang berkelanjutan.. Bersama dengan APRIL, Tanoto Foundation mendukung 200 UKM dan memfasilitasi kredit modal usaha  sebesar 91 milyar rupiah untuk mendukung pengembangan UKM di wilayah operasionalnya. Sedangkan untuk Peningkatan Kualitas Hidup, Tanoto Foundation juga bekerjasama dengan mitra korporasi dalam melaksanakan program kesehatan, peningkatan akses terhadap fasilitas sanitasi dan air bersih yang lebih baik.

“Semua kegiatan Tanoto Foundation bermuara kepada usaha menanggulangi kemiskinan dan mendukung pembangunan yang berkelanjutan. Kami merasa bangga karena Tanoto Foundation memiliki misi yang sejalan dan menjadi bagian dari proses inklusif implementasi program-program SDGs di Indonesia,” ujar Sihol Aritonang menutup paparannya.


Leave a Reply