Read Also

“Saya bingung ketika pertama kali ke bandara dan naik pesawat, pintu mana yang harus saya masuki? Apa yang harus saya lakukan dengan tiket ini? Bagaimana cara menggunakan sabuk pengaman ini? Dan tiba-tiba kenapa tiba-tiba telinga saya menjadi sakit?”

Itulah sederet pertanyaan yang hinggap di benak Ojan (20), ketika ia pertama kali melakukan perjalanan jauh menggunakan pesawat terbang.

“Saya bingung ke mana harus pergi saat pertama kali sampai di bandara. Memang pergi bersama kedua teman saya, namun kami benar-benar tidak tahu apa yang harus kami lakukan,” ujar Ojan.

“Saat itu merupakan pertama kalinya saya naik pesawat. Hal yang paling saya rasakan adalah telinga saya benar-benar sakit, dan saya tidak tahu bagaimana cara menghadapinya,” lanjut Ojan.

Namun, Ojan tetap tertawa berseri-seri ketika menceritakan pengalaman pertamanya menaiki pesawat terbang ini.

Pengalaman tersebut dirasakan pria bernama asli M. Fajar Sulthan pada bulan lalu, dengan perjalanan dari rumahnya di Jakarta menuju Pekanbaru, Riau untuk menghadiri Tanoto Scholars Gathering.

Ojan yang kini menyandang status mahasiswa tingkat akhir ini, kini sedang menempuh di Fakultas Teknologi Ilmu Pangan di Institut Pertanian Bogor.

“Biasanya saya hanya menggunakan motor atau kendaraan umum untuk berpergian ketempat yang jaraknya jauh, dan memakan waktu yang lama. Tapi karena saya baru pertama kali naik pesawat, saya terkagum-kagum, hanya dalam waktu satu jam saya sudah bisa berada di pulau yang berbeda. Teknologi yang sangat luar biasa,” ujar Ojan.

“Perasaan saya kemarin saya masih berada di rumah, kemudian sekarang saya sudah berada di tempat yang baru, ini sangat menarik perhatian saya,apalagi ketika bisa melihat pemandangan dari dalam pesawat,” lanjut Ojan.

“Ketika kami berangkat dari Jakarta ke Pekanbaru, saya sangat senang sekali karena bisa duduk di dekat jendela sambil melihat pemandangan di bawah menjadi lebih kecil,” tambah Ojan.

Ojan merupakan satu dari sekian banyak mahasiswa Indonesia yang menjalani penerbangan pertamanya bersama Tanoto Foundation. Semua ini berkat acara Tanoto Scholars Gathering.

Selain menyalurkan sekitar 250 beasiswa kepada mahasiswa universitas lokal di seluruh Indonesia setiap tahunnya, Tanoto Foundation juga mengundang lebih dari 200 penerima beasiswa untuk hadir dalam Tanoto Scholars Gathering. Dalam rangkaian acara yang berlangsung selama satu minggu tersebut, para peserta diberikan pelatihan untuk meningkatkan soft skill dan memperluas jaringan antar peserta.

“Awalnya, saya sama sekali tidak tahu tentang beasiswa Tanoto Foundation. Saya hanya mendengarnya dari teman saya, itupun di tahun ketiga ketika saya kuliah. Sejak saat itu, saya pun tertarik untuk bisa meraih beasiswa Tanoto Foundation, “kata Ojan.

“Setelah mencari tahu tentang Tanoto Foundation, saya langsung bersemangat untuk mendapatkan beasiswa ini karena Tanoto Foundation memberikan banyak pelatihan soft skill kepada para pesertanya,” lanjut Ojan.

“Salah satu bantuan terbesar yang berikan adalah dana pendidikan. Tanoto Foundation membiayai sebagian besar biaya kuliah saya. Tentu saja ini sangat membantu saya beserta keluarga,” tambahnya.

Menurut Ojan, berkat dari Tanoto Foundation, kini kedua orang tuanya yang bekerja sebagai seorang guru, bisa mulai menabung untuk mempersiapkan dana pendidikan bagi adiknya.

Dalam meraih beasiswa ini, para Tanoto Scholars menjalani proses seleksi yang sangat ketat, yang terdiri dari seleksi administrasi seperti minimal IPK, tes psikologi dan wawancara tatap muka.

Ojan menganggap tes psikologi sebagai bagian terberat dari proses seleksi beasiswa ini. Ketika menjalani proses wawancara pun ia agak sedikit gugup, namun Ojan berhasil menjalaninya dengan lancar.

“Awalnya saya sangat tegang dalam menjawab pertanyaan ketika wawancara, sampai suatu momen di mana saya kaget karena alarm ponsel saya tiba-tiba berdering. Untungnya orang yang mewawancarai saya tertawa dan suasana pun menjadi cair,” ujar Ojan.

“Setelah bisa tertawa lepas dan mencairkan suasana, saya pun berhasil berbicara dengan jujur dan tenang. Saya juga menunjukkan kepribadian dan antusiasme saya terhadap program beasiswa ini” katanya.

Dalam menjalani proses seleksi beasiswa Tanoto Foundation, Ojan memberikan saran kepada para calon Tanoto Scholars agar, “belajar dengan sungguh-sungguh, dan selalu percaya pada diri sendiri”.

“Dengan menjadi Tanoto Scholar, bisa jadi kamu juga akan merasakan sensasi pertama kali menaiki pesawat terbang, ,” kata Ojan sambil tersenyum.

“Kedepannya, kalau untuk saya sendiri, saya sudah menanti-nantikan untuk bisa kembali merasakan sensasi saat menaiki pesawat terbang,” ujar Ojan.

“Suatu hari nanti mungkin saja saya bisa sarapan di kampung halaman saya, kemudian makan siang di Singapura dan diakhiri dengan makan malam di Amerika Serikat – siapa tahu?”

 

 


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *