Read Also

Rafli Riansah berdiri di depan teman-teman dan gurunya sambal menceritakan gambar yang ada di dalam buku tersebut. Siswa kelas II SDN 010155 Sei Muka, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batubara, Sumatera Utara tersebut bercerita dengan semangat, meskipun kurang lancar. Rian, begitu dia biasa dipanggil, tidak sedang membaca cerita. Dia hanya bercerita berdasar gambar yang dia lihat.

Endang Susilawati yang saat itu sedang mempraktikkan teknik membaca cerita di SDN 010155 Sei Muka tidak menghentikan aktivitas Rian, meskipun belakangan dia tahu dari murid lain bahwa Rian belum bisa membaca. Praktik membaca dan bercerita tersebut merupakan bagian dari program Pelita Pustaka dari Tanoto Foundation yang digelar pada Agustus 2017.

Endang bukan guru Rian. Dia mengajar di SDN 017116 Karang Baru, Kecamatan Talawi dan hanya melakukan praktik pelatihan mengajar di sekolah Rian. Meski begitu, dia tidak membeda-bedakan murid yang diajar. Di mana pun dia mengajar, meski hanya dalam praktik sebuah pelatihan, dia tetap melakukan yang terbaik dan memberikan kesempatan yang sama kepada semua murid.

“Bagi saya, membangun keberanian anak jauh lebih penting disbanding kemampuan membacanya. Kemampuan membaca bisa diajarkan siapa pun, tapi membangun karakter anak harus dibangun secara terus menerus. Mengajar anak itu harus menyentuh hati mereka,” kata Endang.

Kesempatan bertemu Rian menjadi pelajaran penting bagi Endang. Bertemu sebuah kesulitan berarti memiliki kesempatan lebih besar untuk belajar. Hal itu yang didapat oleh Endang. Setelah memberikan kesempatan kepada Rian, keesokan harinya dia memberikan kesempatan kepada Rian lagi dan ternyata dia memiliki keberanian lebih baik dan bisa bercerita dengan lebih lancar.

Pelajaran bertemu Rian tersebut yang kemudian diterapkan Endang di sekolahnya, khususnya kelas 1 sampai kelas 3. Dia tidak membeda-bedakan murid dan memberikan kesempatan yang sama kepada setiap murid untuk berani membaca atau bercerita di depan temantemannya.

Hasilnya sangat positif. Murid-murid di sekolahnya mempunyai keberanian lebih baik, meskipun aktivitas ini baru dijalankan sekitar tiga bulan. Murid-murid tidak lagi canggung saat diminta membaca cerita di depan teman-temannya. Bahkan, mereka terkadang mengambil inisiatif sendiri dengan membacakan cerita sebelum Endang datang ke perpustakaan.

Tak hanya berani dalam membaca cerita di perpustakaan, murid-murid juga lebih berani dan aktif saat pelajaran di dalam kelas. Saat ada pertanyaan, murid-murid tak takut untuk mengangkat tangan dan menjawab. Jawaban mereka tidak selalu benar, tapi berani menjawab sudah menjadi poin penting bagi seorang murid.

Endang berharap setiap guru dan orangtua memberikan kesempatan kepada anak-anak mereka untuk mencoba, meskipun tidak selalu berhasil. Endang sudah belajar kepada Rian. Bila anak diberi kesempatan,dia akan mencoba berbuat yang terbaik dan setiap anak memiliki potensi untuk berkembang, maju, dan semakin cerdas.

Ditulis oleh Jepri Sipayung, Tanoto Foundation Sumatera Utara.


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *