Read Also

Membanggakan, Indonesia kembali masuk dalam jajaran negara paling dermawan di dunia. Dalam daftar World Giving Index 2017 yang baru saja dirilis Charities Aid Foundation (CAF), Indonesia menempati posisi kedua.

Dalam subkategori kedermawanan mengorbankan waktu untuk membantu sesama, Indonesia berada di posisi puncak. Masyarakat Indonesia paling aktif mendedikasikan waktu demi membantu sesama. Ini artinya, kedermawanan masyarakat Indonesia juga disertai aksi nyata turun ke lapangan. Mem-bersamai dan merasakan apa yang dialami oleh mereka yang membutuhkan uluran tangan.

Eskalasi gelombang filantropi di negeri ini memang memberikan optimisme. Meski belum ada data valid mengenai jumlah lembaga filantropi yang beroperasi di Indonesia, kita bisa menyaksikan sekaligus merasakan betapa masif inisiatif gerakan kedermawanan di tengah-tengah masyarakat. Ada yang bersifat swadaya, tidak sedikit pula yang disokong oleh institusi bisnis, pemerintah, ataupun NGO.

Cakupan gerakan filantropi pun kian beragam. Ada yang bergerak di bidang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, dan kebencanaan. Yang terakhir ini paling marak. Tentu saja tidak terlepas dari kondisi geografis Indonesia sebagai daerah rawan bencana, sehingga butuh solidaritas tinggi untuk saling membantu.

Gerakan filantropi bisa jadi dipandang sebagai jalan sunyi dalam berkontribusi membangun negeri. Tak seriuh jalan bisnis atau politik yang selalu menyedot sorot kamera dan tepuk sorak masyarakat. Tapi filantropi berbeda, karena ia lahir dari panggilan jiwa dan memberikan kenikmatan batin bagi mereka yang melakoni gerakan sosial ini.

Di tingkat global, kita melihat bahkan orang terkaya di planet ini pun tetap saja butuh wadah filantropi untuk mengekspresikan kebebasan jiwa. Siapa yang tak kenal Bill Gates dan istrinya, Melinda Gates, kedua sosok ini memilih memfokuskan perhatian di bidang kesehatan. Bill dan Melinda keliling ke berbagai penjuru bumi mengemban misi kemanusiaan justru tidak dengan menampilkan kemewahan material. Tumpukan kekayaan mereka tanggalkan.

Di dalam negeri, kita juga punya perbendaharaan sosok-sosok filantropi. Di bidang pendidikan, misalnya, siapa yang tidak kenal dengan Sukanto Tanoto. Melalui Tanoto Foundation, konglomerat yang merintis usaha dari bawah ini malang melintang di dunia beasiswa Indonesia. Bagi pelajar dan mahasiswa, nama “Tanoto” mungkin lebih dikenal sebagai pemberi beasiswa ketimbang pemilik Asian Agri, PT Riau Andalan Pulp & Paper, dan berbagai bisnis di bawah naungan group Royal Golden Eagle International.

Tanoto Foundation, bisa dikatakan sebagai ‘brand’ donatur beasiswa legendaris. Sukses melahirkan SDM-SDM berkualitas. Ini dibuktikan oleh data bahwa sebanyak 67 persen dari peraih beasiswa Tanoto Foundation berkarier di perusahaan papan atas. Mulai dari perusahana multinasional, BUMN, ataupun perusahaan swasta nasional. Tak heran bila kemudian beasiswa Tanoto Foundation menjadi incaran para pelajar dan mahasiswa.

Disarikan dari tulisan Jusman Dalle, Direktur Eksekutif NGO Filantropi Tali Foundation dan Praktisi Ekonomi Digital, yang terbit di Republika, Rabu, 4 Oktober 2017.


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *