Read Also

Kesadaran membaca orang-orang Inggris terbilang cukup tinggi. Bahkan ada ungkapan tentang bagaimana membedakan orang Inggris atau bukan, yaitu dengan mengidentifikasi mereka saat perjalanan di kereta menuju kampus atau tempat kerja. Caranya mudah. Orang Inggris pasti memegang koran atau e-book reader dan membaca di sepanjang perjalanan. Sedangkan kebanyakan orang non-Inggris membuka telepon selular atau tertidur.

Menurut laporan The World’s Most Literate Nations mengenai peringkat negara dilihat dari minat membacanya, Inggris menduduki peringkat ke-17. Fakta yang mengejutkan, berdasarkan laporan yang dirilis pada Maret 2016 tersebut juga menyatakan Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara yang disurvei. Ini menunjukkan minat membaca masyarakat Indonesia masih sangat tertinggal dari negara-negara lain.

Belajar dari negara maju seperti Inggris, ternyata membaca itu bukan karena ada perlu, tapi memang sebuah keperluan yang menjadi bagian dari keseharian. Aktivitas membaca membuat hari tak sekadar berlalu, tapi juga mendapat “asupan” yang bermutu.

Beberapa contoh mengenai budaya membaca dari orang Inggris adalah adanya reading day yang diadakan sekolah setiap minggunya. Juga pojok buku yang selalu tersedia di children center dan sekolah, dengan rak-rak buku besar yang berisi bacaan-bacaan bermutu. Di perpustakaan, selalu ada hari mendongeng, gratis untuk anak-anak. Hal-hal inilah yang membuat membaca menjadi sebuah kebiasaan, bahkan kebutuhan.

Faktor lain sebagai penunjang minat baca adalah perpustakaan. Untuk meningkatkan minat baca, perpustakaan tentu berperan penting sebagai sarana utama. Bahkan bisa dibilang perpustakaan itu layaknya surga buku-buku. Di Inggris sendiri, perpustakaan itu besar sekali, dan tertata dengan sangat rapi. Koleksinya pun beragam dan mencakup hampir seluruh ilmu pengetahuan.

Mengingat angka literasi yang rendah di Indonesia, patut dihargai usaha-usaha untuk meningkatkan minat baca anak bangsa seperti program Pelita Pustaka yang diinisiasi oleh Sukanto Tanoto melalui Tanoto Foundation. Pelita Pustaka memberikan bantuan berupa penyediaan buku-buku maupun memperbaiki/membangun perpustakaan di sekolah-sekolah pedesaan. Pedesaan merupakan sasaran yang tepat untuk meningkatkan minat baca para putra daerah, yang bisa saja berpotensi, namun tidak terfasilitasi.

Melalui program Pelita Pustaka, Tanoto Foundation telah merenovasi dan membangun perpustakaan di 186 sekolah, mendonasikan lebih dari 32.000 buku, dan melatih lebih dari 1.800 guru dalam mengelola perpustakaan di wilayah pedesaan provinsi Riau, Jambi, dan Sumatera Utara.

Disadur dari tulisan Dewi Nur Aisyah yang berjudul ‘Indonesia dan Budaya Membaca: Mari Belajar dari Negara Skandinavia’. Tulisan asli bisa dibaca di sini


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *