Read Also

Sesaat setelah keluar dari ruang wawancara, Stephanie Claudia Chrisdyana Tambunan,21 tahun, yakin bahwa  usahanya mendapatkan beasiswa dari Tanoto Foundation sudah berakhir.

“Itu menjadi proses paling sulit bagi saya. Sejak saya masuk ke ruangan dan memperkenalkan diri saat wawancara, saya merasa tidak nyaman dengan lidah saya,” kenang Stephanie.

Stephanie tidak pernah menduga dia akan mengalami hal itu, karena dia berada dalam kondisi sehat saat awal proses pendaftaran beasiswa. Sampai menjelang wawancara, dia didiagnosa menderita kelumpuhan pada sebagian wajahnya.

“Tidak mudah untuk bisa memenuhi syarat minimal. Beasiswa Tanoto Foundation dikenal sangat bagus sehingga prosesnya tidak mudah. Banyak tantangan yang harus saya hadapi untuk bisa mendapatkannya,” ujar Stephanie yang saat ini memasuki tahun ketiga di jurusan Pertanian, Universitas Sumatera Utara.

Perempuan asli Medan ini mengisahkan dia menderita kelumpuhan wajah sebagian dua minggu sebelum tahap wawancara dengan tim Tanoto Foundation.

Seperti penderita kelumpuhan wajah lainnya, Stephanie tidak mengetahui penyebab dari penyakit yang dideritanya. Selama sebulan, penyakit tersebut membuat salah satu sisi wajahnya terlihat ‘melorot’. Hal yang lebih dikhawatirkan Stephanie adalah kesulitannya untuk berbicara dengan baik dan wajar.

“Sebelum wawancara, saya khawatir karena tidak bisa mengucapkan beberapa huruf dengan baik seperti ‘f’ ‘n’ dan ‘p’. Saya sangat takut tidak bisa memberikan yang terbaik saat wawancara.

“Saat wawancara, kondisi saya lebih baik meski belum bisa berbicara dengan baik. Saya mengandalkan Bahasa tubuh dan gesture. Suatu hal yang sangat tidak normal dalam sebuah wawancara,” kenangnya.

Meski demikian, Stephanie berusaha untuk tetap percaya diri dan menjawab semua pertanyaan sebaiknya mungkin.

“Saat saya selesai. Saya berpikir saya tidak akan mendapatkannya (beasiswa). Tapi Puji Tuhan. Saya menjadi perempuan yang paling beruntung karena menjadi menerima Beasiswa Tanoto. Saya hanya bisa bilang ‘wow’. Ini adalah kejutan yang sangat menyenangkan,” kenangnya.

Tanoto Scholar ini mengatakan dia mendapatkan beasiswa pertama saat semester kelima di Universitas

“Saya sangat menginginkan beasiswa ini, selain keuntungan finansial dan bisa membantu orang tua saya, yang tidak lagi perlu membayar biaya pendidikan saya, beasiswa ini juga melengkapi saya dengan soft skill seperti berbicara di depan umum saat kita berpartisipasi dalam program seperti Tanoto Scholars Gathering.

“Dan saya benar-benar berpikir itu sangat penting bagi kita terutama saat kita akan berusaha mendapatkan pekerjaan dengan baik,” kata Stephanie.

Menyinggung Tanoto Scholars Gathering 2017, Stephanie merasa sangat bersyukur bisa terpilih untuk ikut sebagai peserta.

“Tanoto Foundation adalah organisasi yang sangat baik. Menurut saya mereka sangat serius untuk membantu kami berkembang sebagai pemimpin masa depan.

“Merupakan kesempatan besar bagi kami bisa datang dan bergabung dalam pertemuan ini, dan saya sangat menikmatinya. Saya bertemu dengan orang-orang terkenal seperti Rio Haryanto dan anggota Dewan Pengawas Tanoto Foundation Anderson Tanoto. Itu momen spesial, “kenangnya.

“Tentu saja, saya sangat berterimakasih kepada pewawancara beasiswa! Saya sangat senang mereka bersedia memberikan kesempatan kepada orang-orang yang mungkin mengalami sesuatu, dan mereka memahami situasi saya, “kata Stephanie.


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *