Read Also

Viola Purinirwana, murid kelas empat di SD 010157 Sei Muka, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara, tampak percaya diri saat menceritakan legenda rakyat di depan teman-teman sekelasnya.

“Pesan moral dari cerita ini, ibu adalah orang yang harus kita muliakan. Perasaan dan hatinya harus kita jaga dan hormati,” kata Viola mengakhiri ceritanya.

Viola mengatakan bahwa dia  mengembangkan keterampilan bercerita selama dua tahun berkat pelatihan yang diberikan oleh sukarelawan.

Kepala SD 010157 Sei Muka, Dumalena Sianturi, mengatakan bahwa pelatihan yang ditawarkan oleh institusi pihak ketiga, seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan yayasan sosial, sangat penting, mengingat terbatasnya anggaran yang diberikan oleh pemerintah daerah.

“Sekolah kami kesulitan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sini karena anggarannya terbatas,” kata Dumalena. SD 010157 Sei Muka terletak di pedesaan yang berjarak 25 kilometer dari ibu kota kabupaten.

Hal yang sama diungkapkan oleh Aida, Kepala Sekolah SD 010152 Sei Muka. Dia mengatakan bahwa bantuan LSM membantu sekolahnya dalam meraih berbagi prestasi. Baru-baru ini, sekolah tersebut menjadi juara pertama dalam lomba pengelolaan perpustakaan tingkat kabupaten untuk kategori sekolah dasar. Prestasi ini dicapai berkat kemitraan sekolah dengan Tanoto Foundation.

Kepala Sub Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan Kabupaten Batu Bara Yandi Siswandi mengakui bahwa anggaran di sektor pendidikan masih rendah, yaitu di bawah anggaran ideal yang seharusnya 20 persen dari total anggaran.

“Anggaran pendidikan tahun ini hanya enam persen dari anggaran total kabupaten sebesar Rp1,1 triliun,” kata Yandi.

Akibatnya, tambah Yandi, pemerintah kabupaten kesulitan meningkatkan nilai rata-rata indeks kualitas guru di Batu Bara. Indeks kualitas guru di kabupaten tersebut adalah 4,7, masih jauh di bawah standar minimum nasional yaitu 6,5.

“Ini sangat memprihatinkan karena hampir 85 persen guru di sini hanya lulusan SMA,” katanya.

Dia mengatakan bantuan dari LSM, seperti dalam bentuk donasi buku atau pelatihan, penting untuk membantu rendahnya anggaran pemerintah, juga untuk meningkatkan kualitas guru dan pendidikan pada umumnya.

Yusnita Saragih, guru SD SDN 118315 Perkebunan Negeri Lama di Kabupaten Labuhanbatu, mengatakan dia merasa bersyukur memiliki kesempatan untuk mengikuti program pelatihan dan menerima beasiswa yang ditawarkan oleh Tanoto Foundation tahun ini.

Namun, dia juga mengungkapkan kekecewaannya atas kurangnya perhatian pemerintah kepada para guru yang bekerja di daerah pedesaan.

“Terkadang saya ingin menangis karena sepertinya pihak ketiga lebih memperhatikan kami daripada pemerintah,” kata guru honorer yang telah mengajar selama 13 tahun di sekolah yang terletak 45 km dari ibu kota kabupaten tersebut.

Salah satu yayasan yang secara teratur memberikan bantuan dan pelatihan ke sekolah-sekolah di provinsi Sumatera Utara adalah Tanoto Foundation.

Memulai kegiatan pada 1981, Tanoto Foundation mendukung upaya penanggulangan kemiskinan di Indonesia melalui program-program pendidikan, pemberdayaan dan peningkatan kualitas hidup.

Manajer Pogram Tanoto Foundation Regional Sumatera Utara Yusri Nasution mengatakan salah satu program di sektor pendidikan adalah Pelita Pendidikan. Program ini dimulai pada 2010 dan telah bermitra dengan lebih dari 103 sekolah di seluruh provinsi Sumatera Utara.

Diadaptasi dari artikel The Jakarta Post ‘”Schools turn to NGOs amid budget constraints” yang terbit pada 29 Agustus 2017.


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *