Read Also

Jakarta, 21 Maret 2017 – Inovasi dan penemuan-penemuan baru mempunyai peran penting dalam pembangunan dan kemajuan sebuah bangsa. Menurut World Bank, Indonesia memiliki 213 peniliti per satu juta penduduk pada tahun 2000 dan meningkat 550 peneliti per satu juta penduduk di 2015. Peningkatan ini masih kurang jika dibanding negara lain.

Malaysia yang hanya memiliki 274 peneliti per satu juta penduduk pada tahun 2000, meningkat lebih dari enam kali lipat menjadi 1,793 per satu juta penduduk pada 2014. Agar bisa bersaing dengan negara-negara maju, Indonesia harus meningkatkan jumlah peneliti, terutama yang bergerak dalam penelitian aplikatif yang bisa menjawab kebutuhan masyarakat secara langsung.

Sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan jumlah penelitian aplikatif di Indonesia, Tanoto Foundation kembali menggelar program Tanoto Student Research Award (TSRA) yang sudah berjalan sejak tahun 2007. Program ini bermitra dengan lima perguruan tinggi, yaitu Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Hasanuddin, Universitas Sumatera Utara, dan Universitas Indonesia, untuk mendorong para mahasiswanya melakukan penelitian, yang dalam pengembangannya nanti, bisa langsung diterapkan di masyarakat.

Melalui program TSRA, Tanoto Foundation telah mendukung lebih dari 440 penelitian aplikatif dari berbagai bidang, di antaranya teknologi, kesehatan, pertanian, dan lingkungan hidup.

“Bapak Sukanto Tanoto dan Ibu Tinah Bingei Tanoto mendirikan Tanoto Foundation untuk mendukung upaya penanggulangan kemiskinan di Indonesia melalui tiga pillar yaitu Pendidikan, Pemberdayaan Masyarakat, dan Peningkatan Kualitas Hidup. Di bidang pendidikan, kami mendukung peningkatan kualitas melalui perbaikan hardware yaitu fasilitas pendukung proses pembelajaran di sekolah maupun perguruan tinggi dan juga perbaikan software yaitu kapasitas pengajar, mahasiswa, dan suasana akademik.”

“Selain itu, kehidupan Bapak Sukanto dan Ibu Tinah pada awalnya sangat sulit. Karena tuntutan ekonomi, mereka tidak memeiliki kesempatan menyelesaikan pendidikan formalnya. Namun mereka telah membuktikan bahwa dua prinsip yaitu kerja keras dan tidak mudah menyerah dapat mengatasi tantangan yang dihadapi. Mereka selalu mendorong generasi muda untuk melaksanakan kedua hal tersebut saat melakukan apapun dalam kehidupan mereka,” kata Sihol Aritonang, Ketua Pengurus Tanoto Foundation.

“Tanoto Student Research Award adalah pelaksanaan dari nilai-nilai tersebut. Dan juga untuk mendorong pengembangan aplikasi pengetahuan di perguruan tinggi untuk menjadi produk yang bisa langsung dimanfaatkan oleh masyarakat,” lanjut beliau.

Dalam TSRA 2017 ini, kita bisa melihat bagaimana mahasiswa-mahasiswa memanfaatkan teknologi untuk menghasilkan produk inovatif yang berguna bagi masyarakat. Mahasiswa dari UI misalnya, mereka membuat drone untuk mendukung “precision farming system” atau sistem pertanian presisi. Ada juga penelitian yang menggunakan bahan yang mudah didapatkan untuk menghasilkan produk yang mudah digunakan oleh masyarakat. Misalnya penelitian mahasiswa IPB yang memanfaatkan papan pelepah kelapa sawit sebagai bahan eksterior bangunan,” tambah Sihol Aritonang.

Sementara itu, Ujang Suwarna, Kepala Sub Direktorat Minat, Bakat, dan Penalaran Institut Pertanian Bogor mengatakan bahwa kegiatan TSRA ini mendorong mahasiswa untuk semakin kreatif dalam mentransformasikan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mereka pelajari dalam kuliah menjadi produk aplikatif.

“Dengan adanya dukungan penelitian seperti Tanoto Student Research Award ini, mahasiswa menjadi terpacu untuk mengembangkan penelitian aplikatif yang langsung bisa diterapkan, salah satunya untuk mendukung produktivitas di dunia industri. TSRA ini juga menjadikan mahasiswa kami semakin tertantang untuk menggali ide-ide yang bisa mendukung keberlanjutan pemanfaatan sumber daya alam,” kata Ujang Suwarna.


Leave a Reply