Read Also

Belinda Tanoto percaya bahwa bertemu dan berdiskusi langsung dengan para pemangku kepentingan di lapangan merupakan salah satu cara menemukan masalah yang sesungguhnya. Cara tersebut juga dapat membantu menciptakan strategi dalam kegiatan filantropi.

Putri termuda Sukanto Tanoto dan Tinah Bingei Tanoto ini merupakan salah satu Anggota Dewan Pembina Tanoto Foundation. Memulai kegiatan pada tahun 1981, Tanoto Foundation yang didirikan oleh kedua orang tua Belinda telah mendukung National University of Singapore (NUS), termasuk dalam program beasiswa, professorships, dan dukungan penelitian.

Belinda Tanoto yang merupakan lulusan sekolah bisnis ini mempunyai ‘passion’ dalam kegiatan peningkatan akses dan kualitas pendidikan di negara-negara berkembang. Ia juga antusias dalam menerapkan prinsip-prinsip yang telah ia pelajari untuk menemukan solusi bagi masyarakat, khususnya dalam bidang pendidikan.


“Bersama tim Tanoto Foundation, saya bertemu langsung dengan guru, orang tua dan pengawas sekolah untuk mendapatkan umpan balik yang berharga. Kami percaya bahwa inovasi terjadi di lapangan, bukan di kantor pusat. Dengan mendiskusikan isu-isu bersama masyarakat dan mendengarkan keprihatinan mereka, Tanoto Foundation dapat memberikan solusi awal dengan lebih baik, yang sesuai dengan kebutuhan sesungguhnya,” kata Belinda.

“Sebagai contoh, karena kepemimpinan sekolah merupakan komponen penting dalam peningkatan kualitas pendidikan, kini kami memperluas program pelatihan guru dengan menyertakan kepala sekolah sebagai peserta pelatihan,” jelas Belinda Tanoto, mengakui bahwa kemitraan adalah elemen penting dalam memastikan bantuan yang diberikan kepada masyarakat bersifat holistik dan berkelanjutan.

“Di Singapura, Tanoto Foundation bermitra dengan NUS dalam upaya mencapai tujuan kami. Kami juga mendukung siswa kedokteran yang berprestasi di NUS Yong Loo Lin School of Medicine. Kami melihat NUS sebagai mitra penting dalam kegiatan filantropi karena pendidikan merupakan kebutuhan dasar dalam masyarakat,” kata Belinda.

“Bermitra dengan NUS, universitas berskala global yang berlokasi di Asia, adalah salah satu cara yang tepat bagi kami untuk mengatasi tantangan yang paling mendesak di masyarakat,” kata Belinda yang pernah menjadi juri dalam ‘Crossing the Chasm Challenge 2016’, sebuah kompetisi wirausaha sosial bagi mahasiswa yang diselenggarakan oleh Asia Centre for Social Entrepreneurship and Philanthropy di NUS Business School.

Tanoto Foundation juga mendukung para penerima beasiswanya, atau dikenal sebagai Tanoto Scholars, yang menempuh pendidikan di NUS untuk berpartisipasi dalam Project Sukacita. Dalam project ini, Tanoto Scholars berkesempatan mengunjungi Pangkalan Kerinci, Riau, sebuah kota di mana perusahaan-perusahaan Grup RGE berada. Mereka didorong untuk melakukan kegiatan sosial seperti pemeriksaan kesehatan dan kampanye pendidikan untuk membantu masyarakat setempat.

Salah satu mahasiswa kedokteran Jaron Koh berpendapat, “Saya mengikuti Project Sukacita karena berisi kegiatan-kegiatan yang selalu ingin saya lakukan, seperti penyuluhan kesehatan dan pendidikan kepada masyarakat yang kurang mampu. Tanoto Foundation telah mendukung biaya pendidikan saya, yang mungkin tak akan sanggup saya balas. Melalui Project Sukacita ini, saya mendapat kesempatan untuk meneruskan kebaikan yang telah saya terima dari Tanoto Foundation kepada masyarakat yang membutuhkan.”

Belinda Tanoto dan saudara-saudaranya mulai aktif dalam kegiatan Tanoto Foundation sejak usia muda. Mereka belajar dengan berbagi mainan bersama anak-anak di panti asuhan. Orang tua mereka, Sukanto Tanoto dan Tinah Bingei Tanoto, ingin menanamkan pelajaran bahwa semakin banyak yang kita miliki, semakin banyak yang harus kita bagi. Semangat inilah yang mendasari kegiatan Tanoto Foundation.

“Mungkin tidak banyak yang tahu, ayah saya memulai kegiatan filantropi saat usia 30-an. Ini adalah bukti bagaimana beliau sangat percaya akan pentingnya  untuk ‘memberikan kembali’ kepada masyarakat. Bahkan, awal kegiatan Tanoto Foundation adalah pembangunan Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar yang didirikan oleh ayah dan ibu saya pada tahun 1981 di pedesaan Besitang, Sumatera Utara. Saya beserta saudara-saudara saya, tetap berkomitmen penuh untuk melanjutkan ‘legacy’ orang tua kami,“ tegas Belinda Tanoto.

Catatan: Artikel ini diterjemahkan dari http://giving.nus.edu.sg/second-generation-tanoto-continues-parents-legacy/

 


Leave a Reply